Seneng deh kalau lagi ngebayangin tentang masa kecil dulu. Sekedar mengingat-ingat dan membandingkan antara masa kecil dulu dan masa sekarang. Hmmh, oke coba lihat yah satu persatu yang mungkin hilang dari peradaban. Haha. Lebay banget. Kebersamaan, kesederhanaan, kejujuran, dan ketekunan. Dulu nih, waktu masih kecil biasanya asik banget kalau lagi maen bareng temen-temen. Walaupun masih suka berantem. Kadang kalau lagi kejar-kejaran rebutan mainan sama temen pas kecil dulu suka nangis kalau lagi jatuh, nah udah kayak gitu pasti terpancar wajah tegang para ibu yang sedang mengawasi kita sambil bilang, ‘Dek, hati-hati dong kalau maen. Jangan rebutan maenan gitu. Pinjem yang baik, maennya gantian!’. Haha. Terharu deh kalau inget kayak gitu, masih kental banget kan kebersamaannya. Waktu kecil dulu juga sering tuh duduk di teras rumah, mainan boneka, ngarang-ngarang cerita aneh dan gak jelas. Mulai boneka yang jadi penjual rujak sampai demam teletubbies yang seolah mewajibkan anak untuk menceritakan setiap episodenya pada ibu. Hanya tawa kecil dan menjadi pendengar yang baik ketika menceritakan sesuatu sudah cukup membuat aku bahagia. Waktu itu. Waktu berjalan cepat dan masa lalu telah terlewat. Tapi, hidup adalah pilihan. Apapun yang kita pilih di masa depan, dan mau kita kenang atau buang masa lalu. Itu pilihan.
Cerita ini aku tulis setelah pulang dari rumah salah seorang saudara dari Jogja. Aku biasa memanggilnya ‘bulek’, aku tak tahu artinya sih tapi ya setidaknya itu mewakili kedekatan kami. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di kamar kostnya yang cukup luas itu hanya untuk share dan melepas penat. Biasanya sore setelah pulang sekolah hingga malam hari. Entah kenapa aku merasa nyaman disana, seperti ada atmosfer positif yang mendorongku untuk selalu melakukan apapun dengan maksimal. Sore itu, seperti biasanya aku menonton tv sambil mengerjakan tugas sekolah.
“Far, kok tumben belajar. Ha ha ha.” Kata bulek yang baru selesai mencuci piring.
“Wah ngledek nih! Ya biar pinter lah. Aku kan emang rajin dari dulu.”
“ha ha ha. Sok serius ah, belajar kok sambil sms an.”
“JANGAN GANGGU!” kataku dengan keras.
“ha ha ha”
Meski sesekali terpaku pada tayangan televisi, akhirnya tugas sekolah itu selesai juga. Ya, butuh waktu dua jam menyelesaikan 50 soal matematika dan sosiologi. Akupun membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Kulihat jam dinding di atas tembok yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.30 dan aku bergegas mengambil air wudhu kemudian sholat. Hmh, tiba saatnya melepas lelah dengan berbaring di atas kasur dan menyalakan mp3 dari handphone.
“Ojo serius-serius to lak ngerjakne. Mumet ngko!” Kataku menjaili bulek yang sedang menginput data ke laptop.
“Halah, wes arepe rampung iki, Far.”
“Ah, sebentar lagi kuliah ya. Gak terasa udah 3 tahun di SMA.”
“Iya ya. Hmmh, jadi ambil jurusan apa? Dimana?”
“Mau ambil komunikasi di UB ” kataku dengan yakin
“Yakin? Ya bagus deh, sesuai dengan minat dan bakat kamu.”
“Kuliah itu gimana sih?” tanyaku penasaran
“Kalo gak kuliah di luar kota itu gak ngrasain yang namanya perjuangan. Gak ada tantangannya.”
“hmmh. Ciyus? Miapa? hahaha” kataku meledek
“Kuliah itu gak kayak SMA loh. Harus mandiri, disiplin, dan tahu diri. Harus lebih rajin belajar dan baca. Ya pokoknya kalo ambil jurusan harus di sesuaikan dengan minat dan bakat. Jangan sampai salah jurusan.”
“Iya tau kok.”
“Udah deh, apapun itu jika kita lakukan dengan rasa senang dan ikhlas pasti enak ngejalaninnya. Yang penting sekarang berusaha biar bisa masuk fakultas yang kamu inginkan”.
“Ah pusing deh mikirin itu. Mumpung lagi buka laptop, lihat donk foto-foto pas jamannya kuliah.”
Aku tertawa geli ketika melihat foto-foto bulek di laptop itu. Rasanya ada perubahan sangat banyak dialami bulek. Seperti ada aura positif dan semangat pada dirinya sekarang. Berbanding terbalik dengan foto itu.
“Dulu ya Far, waktu lulus SMA. Aku tuh gak ada niat buat kuliah, ya soalnya gak ada biaya. Kan adek aku juga banyak, masih sekolah juga. Tapi gak tau kenapa akhirnya kuliah.”
“Emang kuliah dimana? Kok bisa?”
“di Jogja. Ya karena gak di awali dengan niat yang sungguh-sungguh, akhirnya menderita karena salah pilih jurusan. Tapi, prinsipku apapun yang aku jalani harus aku lakukan dengan maksimal.”
“Lah, bisa gak ngikuti pelajarannya?”
“Pas kuliah dulu aku merasa seperti orang yang paling bodoh. Padahal juga belajar lho, makanya kamu belajar yang serius. Jangan sampai merasakan apa yang aku rasakan dulu.” Katanya menasihatiku.
Sepertinya benar apa yang dikatakan bulek. Contohnya saja di sekolah, ketika aku tidak belajar atau mempersiapkan materi untuk besok, ada rasa percaya diri yang hilang. Meskipun sebenarnya apa yang guru sampaikan di kelas juga bisa kita dengar, tapi terasa aneh ketika mendapat ilmu baru tapi sebelumnya tidak membaca dasarnya. Terkadang dalam pendidikan, kita lebih sering mengejar nilai dan menghalalkan segala cara hingga melupakan akhlak yang baik. Padahal dulu waktu kecil, kita sering dan berulang kali di nasehati untuk selalu mengedepankan kejujuran.
“Kamu harus percaya bahwa ketika kita terbiasa untuk hidup jujur dan mandiri, tetap yang akan memetik keuntungan itu kita sendiri. Kalo udah bisa mandiri, kita akan terbiasa dengan kehidupan itu. Jadi gak akan terbebani.”
“Ya sebenarnya aku itu ya bisa mandiri loh. Tapi tertabrak alasan-alasan klasik akhirnya ya manja. Hahaha.”
“Lha iya, masa udah 17 tahun gak bosen kalau manja. Mulai sekarang belajar mandiri, biar kita terbiasa bersahabat dengan namanya kesulitan hidup.”
“Harus ya?”
“Iya lah. Harus, apalagi bentar lagi kuliah di luar kota. Siapa coba yang bisa nolongin kalo gak dirimu sendiri?”
“Iya ya. We can survive. Fighting. hahaha”
“Sebenarnya ya cita-citaku dosen, Far. Aku berdoa terus biar bisa kuliah S2, daftar dosen trus kuliah psikologi.”
“Oke sip tak doakan. Cita-citaku cuma pengen cerita. Jadi penulis maksudnya.”
“Oke sip, yang penting harus kuliah sesuai bakat dan minat. Pasti bisa. Soalnya gak akan terpaksa kalo menjalani. Tapi harus ada niat belajar biar bisa. Sekarang nikmati dulu masa SMA-mu. Masa paling indah itu.”
“ha ha ha…”
“Tapi gak punya pacar waktu SMA rugi lho, Far. Ha ha ha”
“hmmmh.”
Mendiskusikan sesuatu sederhana tentang sebuah langkah dan pilihan masa depan, menghabiskan waktu berjam-jam share tentang hal itu, memberi sebuah suntikan semangat dan atmosfer positif pada diriku. Meskipun aku tak selalu berada di ruangan ini, aku berharap akan selalu memberikan atmosfer positif bagi semua orang. Obrolan kami tadi seakan membuka mataku untuk bangun dan melihat keadaan sekitar, mengajarkan bahwa hidup bukan permainan. Sepertinya selama ini aku di butakan oleh keadaan. Rasanya aku kehilangan tawa lepas yang keluar dari hati, mungkin aku kehilangan saat-saat menghabiskan waktu dengan obrolan ringan bersama keluarga, sahabat, atau siapapun itu. Aku butuh masa lalu, aku ingin belajar dari masa lalu. Share tak akan pernah hilang dari dunia kita. Walau hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Itu pilihan.
Musim ujian telah tiba. Mulai dari ujian akhir semester, ujian sekolah, ujian praktek, ujian nasional, dan puncaknya adalah ujian melawan para pejuang ilmu demi sebuah kursi mahasiswa. Ya semacam fase dimana harus berpikir, bertindak, berusaha dengan maksimal, dan fighting. Kalau sudah musim ujian seperti ini gak ada lagi deh yang namanya santai. Pikiran dan perbuatan akan terfokus pada satu hal “ujian”. Entah apa yang membuat kata itu terdengar begitu ngeri di kalangan pelajar. Banyak yang bilang, ujian menjadi salah satu momok dan beban terberat. Semacam pertarungan sengit antara sel sperma dan sel telur untuk menjadi pemenang kehidupan. Ujian itu juga yang akan mengantarkan kami ke gerbang masa depan untuk menjadi pemenang.
Waktu itu setelah pulang dari latihan senam untuk ujian praktek sekolah, aku dan beberapa temanku beranjak ke café di pusat kota yang juga milik salah seorang temanku. Karena suntuk di rumah, tugas sekolahpun kami kerjakan disini. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, café ini sangat klasik dan cocok buat kami yang sedang dilanda demam ujian. Biasanya kami memilih duduk di sofa sudut café dan memesan es cappucino. Es cappucino di café ini memang terkenal enak dan lain daripada yang lain, sebut saja itu menu andalan kami ketika nongkrong disini. Seperti biasanya, terjadilah obrolan ringan disela tugas yang menumpuk.
“Eh, perpisahan sekolah jadi kapan? Dimana?” tanyaku penasaran.
“katanya sih di sekolah aja, tapi ada prom night!” ujar Eldo, kepala suku kelas kami.
“Yah males deh, gak asik kalau di sekolahan.”
“Kayaknya asik nih kalau satu kelas liburan ke Semeru. Sekalian refreshing”
“Iya, kita butuh refreshing. Offroad asik nih!” Radit, salah seorang temanku menyela penuh semangat
“Lah, kok gitu? Kan lagi ngomongin perpisahan?”
“Eh, aku pernah loh sama papaku naik ke Gunung Arjuno. Bagus juga kok.”. ujar Radit dengan PD-nya
“Bakalan asik kalau foto album sekolah di Ranukumbolo. Klasik”. Usul kepala suku
“Plis deh, Semeru jauh. Ujian semakin dekat. Foto kelas bela-belain ke Semeru, pasti rumpi ah. Paling juga banyak yang gak diijinin sama orang tuanya.”
“Semeru deket! Sama kok kayak mendaki di Gunung Klotok. Cuma lewati satu bukit gunung. Nah, kan bisa sewa travel buat kesana?”
“Halooooo… Butuh waktu berapa lama? Iya kalo kuat, kalo gak? Emangnya gampang apa kayak gitu. Belum lagi kalau nyasar? Gimana coba? Udah deh cari yang deket-deket aja” Kataku tak setuju.
Tak ada jawaban dari teman-temanku, mereka tahu tak akan ada habisnya berdebat denganku. Lalu kami mulai asik dengan internet. Dan ternyata dua temanku sedang browsing tentang Semeru. Memang setelah film 5cm. tayang di bioskop, kami sering membicarakan tentang gunung Semeru. Dan kebetulan, nenek Eldo tinggal di daerah yang berdekatan dengan Gunung Semuru. Jadilah kami sering mendengar cerita tentang Semeru. Dan artikel yang mereka baca di internet saat itu mengawali cerita mistik tentang Semeru dan hal-hal di sekitar kami. Aku yang memang penakut, sebenarnya tak mau mendengarkan cerita itu. Tapi karena duduk kami hanya berjarak 1 meter, sudah pasti cerita itu terdengar di telingaku dan sukses membuat bulu kudukku merinding.
“Eh udah donk, takut nih!” kataku memaksa
“Tuh ada yang liat di belakang kamu. Gak usah dipikir, gak usah takut. Kalo takut justru didatengi loh.” Kata Radit sambil membacakan artikel di internet dengan suara lebih keras.
“Rese!”
“ha ha ha.” Si kepala suku hanya tertawa melihatku ketakutan.
“Udah deh itu cuma halusinasimu aja. Kalo takut ya kayak gitu jadinya. Parno!”
Enough!” kataku.
Misteri yang ada di Indonesia memang tak akan ada habisnya jika di ceritakan. Indonesia yang masih kental akan hal-hal mistik memang menyimpan sejuta misteri dan pertanyaan. Meskipun kita belum tahu kebenaran akan hal itu. Cerita mistik dari mulut ke mulut seakan menanamkan sugesti pada masyarakat bahwa hal itu memang ada. Hanya kita yang bisa menyaring, berpikir positif, dan rasional tentang cerita-cerita itu. Sama halnya dengan ujian yang sedang kami alami di sekolah. Terlalu memikirkan hasil akhir dan menjadikannya beban justru akan menanamkan energi negatif pada diri kami sendiri. Sugesti semacam itu yang kemudian akan mematahkan semangat belajar kami. Ujian sama halnya dengan cerita mistik, menyimpan misteri yang harus dipecahkan. Dan yang bisa memecahkan misteri itu hanya kita, diri kita sendiri.
Mungkin kita terlalu suntuk dengan aktifitas yang dilakukan, hingga pada suatu titik, mengalami masa kejenuhan. Adakalanya kita butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiran yang mulai jenuh. Kita hanya butuh istirahat sejenak dan refreshing. Selanjutnya kita bisa memecahkan misteri di setiap apa yang kita lakukan. Dan kami, Semeru mungkin akan menjadi tujuan liburan dengan segala pertimbangan.
"Tuhan, aku rindu...
Tuhan, aku tak pernah tahu kepada siapa lagi harus bercerita. Tentang semua keluh kesah, suka, duka, dan lika liku luka. Beberapa kali memakasakan diri bercerita pada orang-orang terdekatku, hasilnya sia-sia. Tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut mereka mampu menenangkanku. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku berantakan, rasanya seperti kehilangan diriku sendiri. Kehilangan dunia yang dulu aku banggakan. Kehilangan dunia yang dulu selalu kuhiasi dengan mimpi dan cita-cita.
Apa yang salah atas diriku? Aku mulai hilang akal. Tak tahu lagi apa yang kurasakaan saat ini. Rasanya mati rasa, tanpa rasa lain. Jalan mana lagi yang harus kupilih untuk kembali menjadi diriku sendiri? Butuh waktu berapa lama untuk me-recorvery kehidupan penuh mimpi itu? Haruskah aku mengalah dan menyerah karena keadaan?"
Tahu berapa kali kutuliskan kalimat itu dalam sebuah catatan kecil? Entahlah aku tak pernah ingin tahu dan menjawabnya. Butuh waktu yang lama untuk kembali menjadi diriku sendiri. Seperti daun yang menanti tetesan embun. Seperti pohon yang menunggu cahaya matahari untuk tumbuh. Perasaan kecewa, menyesal, dan terluka mungkin masih menyelinap di antara relung hati dan mimpi. Ingin rasanya membakar dan benar-benar hilang dari perasaan itu. Kembali menjadi diriku sendiri, menjadi apa yang aku mimpikan dulu.
Ya, aku akan bangun, bangkit, berdiri, bahkan berlari. Aku akan menjadi diriku sendiri, aku akan melakukan setiap apa yang kujalani dengan penuh harapan. Berselimut doa yang kupanjatkan, semoga Allah senantiasa membukakan jalan yang terbaik. Ini saat yang tepat untuk bangkit. Mati Rasa? End.
Bertahun-tahun sudah menikmati setiap waktu yang ada, entah untuk apapun itu. Pernah gak sih kita bertanya pada diri sendiri "Apa sih yang udah aku lakuin selama ini? Apa sih yang paling berarti selama ini?". Well, lagi-lagi muncul pertanyaan klasik yang terdramatisasi ketika mengucapkannya. haha. Seringkali aku menghabiskan waktu senja untuk duduk bersantai di salah satu monumen di kotaku. Uniknya monumen ini di desain mirip banget sama monumen Arc de Triomphe dari Paris. Bedanya monumen Simpang Lima Gumul(SLG) berada di tengah-tengah persimpangan Lima di Gumul, Kediri. Walaupun desain dan arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe, tapi ternyata ornamennya menonjolkan seni budaya asli Kediri. Di sekeliling monumen banyak banget ditumbuhi rumput yang biasa untuk santai dan ngumpul bareng temen. Klasik ya menikmati suasana senja di Arc de Triomphe ala Kediri.
Aku tak sendiri menikmati senja di monumen ini, biasanya sebotol minuman kaleng, beberapa bungkus snack, notes, kamera, dan salah seorang sahabat menjadi pelengkap rutinitas senjaku. Waktu itu di suatu senja kami duduk berdua di bawah langit yang teduh, udara yang sejuk, dan hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ketika itu mata kami tertuju pada gadis kecil yang berlari sambil tersenyum menghampiri kami.
"Halo adek manis... namanya siapa?" sapa sahabat saya
Gadis itu hanya tersenyum dan duduk di depan kami dengan manisnya. Memainkan rumput dengan jari jemarinya yang mungil sambil sesekali melirik ke arah kami. Tak lama, ibunya memanggil dengan suara yang cukup keras karena gadis itu berlarian cukup jauh dari orang tuanya.
"Adek sini, jangan ganggu kakaknya lagi ngobrol...". Tampaknya ia kaget dengan teriakan ibunya, gadis itu berlari ke arah ibunya dan bermain disana.
"Prim, sadar gak sih anak kecil tadi habis ngapain? aneh banget!" ucapku datar
"Ya biasa, namanya juga anak kecil pasti ya kayak gitu deh tingkahnya. Lucu kan?"
"Iya sih, tapi aneh. Perhatiin deh, daritadi maen dan lari-lari terus gak ada capeknya apa. Gak bisa diem banget kan?"
"Dia kan masih kecil, masih polos. Jarang-jarang kan di genit in sama anak kecil kayak gitu." Kata Prima sambil tertawa kecil
"Whatever lah"
"Biarin aja lah, biar dia menikmati masa kecilnya yang indah. Biasanya kita juga kangen masa kecil kita kan?"
Aku diam, kami berdua sama-sama diam. Orang-orang bercengkrama di sekeliling monumen, ada yang dengan keluarga, sahabat, pacar, dan banyak yang lainnya. Deru suara motor di jalanan menjadi tontonan yang biasa karena posisi monumen ini tepat di tengah jalan persimpangan lima. Hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas panjang seolah menenangkan diri.
"Apa sih yang kita cari disini?" Kataku mengagetkan Prima
"Pengen santai. Bosen kan tiap hari dengan rutinitas yang itu-itu aja."
"Kapan ya bisa kayak anak kecil tadi. Lari-lari, tanpa beban, bebas nglakuin apa aja yang dia suka. Yang ada dipikirannya cuma maen dan maen. gak ada yang lain!"
"Kan selama ini kita udah melewati semua itu. Gak mungkin kan kita kembali ke masa lalu."
"Ya enggak sih, rasanya sekarang gak bisa enjoy aja. Yang salah siapa donk kalau gitu? Kita? atau keadaan?"
"Gak ada yang salah sih. Mungkin kita sering lupa sama Tuhan, membiarkan diri kita terlena dengan apa yang namanya tanggung jawab. Sekarang kita udah jadi diri kita sendiri. Bedanya sama anak kecil tadi, dia masih mencari siapa dirinya."
"Iya ya, sudah saatnya kita mendewasa tanpa mengeluhkan apa yang terjadi. Mungkin keluhan-keluhan yang menumpuk itu membuat aku lupa siapa di balik semua ini. Tuhan."
"Life must go on kan?"
"Yah, Tuhan yang membuat kita kuat."
Dia hanya membalasnya dengan senyuman.
Ada satu hal yang perlu aku sadari dalam hidup ini. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Yang jarang disadari oleh remaja seusiaku. Bahwa sebenarnya Allahlah segalanya. Yang memberi hidup dan kehidupan. Maha pembolak balik hati. Sang pemilik segalanya. Hanya Allahlah yang memiliki segalanya, penolongku, cahaya terang di saat nurani mulai goyah, petunjuk saat otak mulai kehilangan logika, Maha segalanya. Dialah tujuan dari segala tujuan. Allahlah yang berhak atas nafasku, atas jiwaku, atas ragaku, ilmuku, atas jalan hidupku. Jalan hidup yang aku pilih tanpa paksaan. Karena semua ini milikNya.
Sedang merindukan masa-masa dimana bahagia itu selalu terukir, menghiasi setiap senyum yang mengembang. Yah, bisa dibilang ini adalah fase tersulit dalam hidup. Entah sudah kesekian kalinya aku keluhkan hal ini, tapi tetap saja keluhan itu tak pernah ada ujungnya. Keluhan tak berujung dari sebuah realita.
Ada kalanya manusia mengalami sebuah titik balik, masa kejenuhan, dan masa perubahan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Melampiaskan menjadi sebuah hal yang positif atau justru terjebak dengan hal yang negatif. Sama halnya dengan sebuah keluhan, berawal dari sebuah realita yang tak 'diharapkan' dan berujung penyesalan yang harus diterima. Penyesalan dan keluhan yang sebenarnya sama sekali tak berarti apa-apa.
Pada dasarnya, kita tau apa yg kita inginkan, apa yang orang lain inginkan dan apa yang pada akhirnya kita pilih. Namun seringkali kita tak menyadari baik atau buruknya sebuah pilihan itu. Dan karena itulah kerapkali keluhan muncul. Harus kuakui bahwa sebenarnya mengeluh salah dan tak ada gunanya. Sama artinya dengan tak mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Tapi, itulah manusia selalu mengedepankan ego tanpa memikirkan bagaimana dampaknya suatu saat nanti.
Setidaknya kini aku berhenti mengeluh dan mulai berpikir cerdas bagaimana menciptakan suasana yang mendamaikan dan membahagiakan. Melampiaskan semua masalah menjadi hal-hal positif yang dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Masih ada masa depan yang melambai padaku. SEMANGAT!!
Ada sebuah ingatan tentang masa kecil saya, dimana saya dan keluarga menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkeliling kota, menikmati setiap sudut kota, bercengkrama, dan bersenang-senang dengan setiap makanan yang kami nikmati. Jagung bakar, tahu petis khas Kediri, nasi goreng, soto ayam, dan apapun itu. Waktu itu semakin berarti ketika kini jarang sekali kunikmati lagi masa itu. Masa lalu itu its was fun. Rasa bangga dan rindu membuncah ketika teringat lagi masa kecil itu.
the past is a very beautiful memories when we are through with happiness. Very simple when happy it gives hope.
Malem readers...
ukh.... lagi stres berat nih gue. Stres tingkat akhir. Ukh, antara kalah dan menyerah. si Laptop masuk rumah sakit, hardisk masuk ICU, dan flashdisk lagi opname. Ukgh rasanya bertubi-tubi banget cobaan ini dateng. Disaat gue butuh data-data yang gue butuhin. Gue kehilangan semua dat-data gue.
Besok, deadline ngumpulin naskah lomba. Lusa ngumpulin hasil fotografi dan besok ngumpulin artikel majalah. Ukh hancuuur banget rasanya. Pengen kalah, menyerah, atau tetap maju? Gue gak bisa nyerah. ini tanggung jawab gue. tapi gue butuh kekuatan.
"Gue pengen nyerah. rasanya ingin menyerah.tapi mereka melawan dengan semangat.sebenarnya malu jika aku dikalahkan oleh virus.penentuan hanya tinggal 4 hari lagi."
Semua ada HIKMAHNYA. aku yakiin itu... ini pelajaran buat aku!
Cobaan memang tak pernah kita sangka datangnya. Tapi itulah yang kita butuhkan untuk menguatkan hati kita. Cobaan itu yang menegur kita agar lebih siap menghadapi masa depan. Keep spirit. Ayooo semangat lagi!
Antara Kalah dan Menyerah!
Hai readers… kangen sama kalian nih readers. Gimana kabar kalian dan kabar liburan kalian yang segera berakhir ini?. Semoga menyenangkan. Hahaha. Gimana juga perasaan kalian soal liburan yang akan berakhir ini?. Semoga masih bahagia dan tidak kecewa.
Tujuh hari mulai Jumat, 1 Juli 2011 sampai 7 Juli 2011 gue di rumah sakit. Tenang aja bukan gue yang sakit. Tapi adek bungsu gue. Muntah-muntah gitu deh. Gak tau deh kenapa sampe ke rumah sakit segala. Kayaknya sih udah sampe dehidrasi gitu. Gak betah tidur di rumah mungkin dan lagi pengen liburan di rumah sakit kali. Oke deh gak usah bahas adek gue. Sekarang dia udah sembuh. Hahaha. Tapi gue sedih banget.
Readers tau gak kenapa gue sedih banget?! Disana gue kenalan sama perawat yang ngurusin adek gue. Namanya Woro #gue lupa apa nama lengkapnya. Hemh, gue gak sempet ngobrol banyak sama dia #sok jaim. Hahahaha. Pertama ngeliat kayaknya tuh orang udah gak asing lagi buat gue dan gue ngrasa kenal banget sama dia. Gak tau ya kenapa gue jadi ngefans sama dia. Emh, bukan ngefans, lebih tepatnya kagum. Pawakannya yang kalem dan sabar bikin orang jadi betah sama dia.
Tadi malem (7 Juli 2011) gue gak bisa tidur. Gue duduk di depan kamar aja. Emang sengaja sih pengen liatin perawat itu. Haha. Eh ternyata dia mondar mandir ngurusin pasien yang lagi rewel. Maklum, pasien di ruang melati emang anak kecil-kecil. Bayi dan balita gitu deeh. Tapi gak jarang ada anak gerang juga #ya remaja maksud gue. Hahaha. Eh udah jam 3 pagi gue masih di depan. Di tanyain sama perawatnya “Mbak gak tidur?”. Hehe. Gue Cuma diem dan senyum aja. Habis itu gue masuk kamar deh tidur. Eeh adek gue malah bangun minta tidur di bawah. Yauda deh gue tidur di tempat tidur pasien. Baru sejam tidur, susternya tiba-tiba masuk bawa thermometer. Kanget gue dan otomatis bangun jadi salting (salah tingkah) gitu. Dengan mata yang ngantuk banget gue perhatiin tuh perawatnya. Haha. Waktu lagi benerin thermometer di tempat tidur gue, basa basi gue tanya. “mbak, jam brapa sekarang?”. “Jam empat lima belas dek.”. di jawab gitu sama dia. Haha. Gue seneng banget.
Mungkin 7 hari itu gue lagi ‘gak waras’ lagi ‘aneh’ deh. Bisa-bisanya kelakuan gue kayak gitu sama tuh perawat. Aah sudahlah biarkan saja aku seperti itu. Aku senang, aku bahagia, dan aku nyaman seperti itu. Tapi sayang banget tadi pas adek gue pulang (jam 12.00) gue gak sempet ketemu tuh perawat. Sedih deh. Mau gimana lagi. Iiih kangen deh. Haha. Kapan-kapan maen kesana ah. Hehe. Setiap orang pasti pernah melakukan hal ‘gila’. Mungkin seperti saya. Tapi bukan berarti itu ‘menggelikan’. Cara menciptakan kebahagaiaan dan menikmati kesenangan bagi setiap orang berbeda.
hai readers sorii gue lama gak ngeblog... emh lagi ada problem.. dan gara-gara itu semua gue jadi gak nulis diary sebulan lebih. Sh*t! ok deh, well, gak penting banget buat dibahas!
Emh, selama gue gak nge-blog. Sebenernya mau ada banyak banget yang mau gue ceritain. Tapi sayangnya gak semuanya layak diketahui publik. Sorry ya readers!! Gue akan berbagi dikit aja yaah...
Yang menggembirakan:
1. Gue udah liat expo di SMAST (SMAN 1 Kediri)
2. Gue dapet bukunya bang Raditya Dika
3. Gue udah siapin online shop sama temen-temen gue
4. Gue udah sedikit lega bisa cerita masalah gue ke guru SMP gue #yang berarti belum sepenuhnya
Yang menyedihkan:
1. Ah, gue benci semua ini. Seandainya gue gak salah ngomong dua tahun lalu. (Mulut gue membisu dan terpaksa bilang "ya" saat gue pergi makan di salah satu tempat makan di kota gue yang terkenal pedes abis #tapi bagi gue gak terlalu pedes.)
2. Gak tau kenapa akhir-akhir ini gue sering nangis sendiri gak jelas. Entah karena apaan gue juga gak tau. Yang jelas sakit banget rasanya tapi gak ada yang bisa ngobatin kecuali diri gue sendiri. Dan ini jawaban sms dari guru gue saat gue curhat sama Beliau #cuma dia yang bisa gue ajak curhat. Gue gak bisa terbuka sama semua org.
14 Juni 2011; 15:45:47
Dari: Guru BK gue
"mb mikir apa?
kl b y* boleh tau cb ceritakan.
pasti ada ssuatu yg dipendam.
hrs yakin smuanya pasti ada jln keluarnya..."
14 Juni 2011; 16:21:07
Dari: Guru BK gue
"ya biar fresh lh crita ke b y* jg gpapa kok, b y* siap untuk mendengarkan ceritanya mb. Udah ah senyum dulu ntar tambah jelek lho kl cemberut trus, hahahahaha"
Udah ya cukup segitu aja sms yang gue posting.
3. Gue sebel gara-gara gue cuma dapet 2 buku dari raditya dika #tapi bersyukur aja lah. Daripada gak dapet
4. Hidup gue gak tenang gara-gara masalah ini. Gue jadi hancur dan pengen pergi dan tak kembali.
5. Gue rindu masa kecil gue. Gue rindu smua yang dulu yang bisa buat gue ketawa.
6. Gue gagal nonton bang Dika di Provocative proActive kemarin 16 Juni 2011 di Metro tv.
Dan akhirnya semua kesedihan dan kegembiraan itu membuat gue gak bisa bangun tidur dan gak doyan makan. Gue pengen lari tapi gue gak bisa. Gue pengen nangis, tapi udah berapa banyak airmata yang jatuh buat hal yang gak penting. Sialnya lagi, akhir-akhir ini gue gagal jalani rencana gue yang seharusnya udah sukses. Aah, betapa amat menyebalkan sekali. Gue kangen diri gue yang dulu, Gue kangen diri gue yang seperti karang. Yang selalu kuat walau ombak menerjang.
Gue sadar gue salah atas semua ini. Dan gue sadar semua berawal dari kata-kata gue dua tahun lalu. Tapi, semua udah terjadi dan sulit untuk diakhiri. #Meskipun sebenernya gue tertekan banget.
Dan pada akhirnya gue menyadari bahwa semua itu karena "Gue jauh banget sama Tuhan. Gue jarang Sholat. Aah, aku rindu semua itu."
Gue harap semua akan lebih baik dari ini.
Hai readers.. sorii nih lama gue gak posting di blog!! Kali ini gue akan sedikit berbagi cerita.
Gak tau kenapa sore ini gue lagi kangen banget masa kecil gue. Kangen semua yang pernah gue alami dulu. Gue kangen ngaji sore di sekolah, gue kangen sore-sore nungguin tukang sate lewat, gue kangen ujan ujan di dpan rumah sambil mainan perahu kertas, gue kangen banget makan ice cream sampe belepotan smuanya, aaah masa kecil gue terlalu indah untuk dilupakan!
Sayang seribu sayang, kini rasanya semua itu lenyap. Udah gak ada artinya lagi semuanya. Udah gak berbekas. Gue ngrasa masa kecil gue hilang. Hilang karena gue juga kehilangan semuanya. Kehilangan bunda gue. Gue rindu banget semuanya. Kadang gue mikir, kapan gue bisa kembali ke masa itu? Kapan gue bisa sekali aja nikmatin masa itu lagi. Sekarang hidup gue udah berubah. Gue jadi seorang yang pendiem dan cuek. Gak mau tau apapun. Kenapa gue gini??
Pernah terbersit daam pikiran gue "Gue pengen berubah. Cukup sudah gue tersiksa dengan luka masa kini yang ngrubah hidup gue. Please God, Help me to change my life!.
Ahh... Saat saat terindah itu. Aku rindu. Kini semua tak pantas ditangisi, tak untuk disesali. Cukup dikenang sebagai kenangan yang terindah. Suatu saat gue pasti kembali.
"Tak kan pernah habis air mataku bila kuingat tentang dirimu. Dan jujur aku tak kuasa saat terakhir kugenggam tanganmu."
Kerispatih
Tak ada yang abadi. Satu kata yang tak pernah terbantahkan oleh apapun. Begitu juga yang terjadi. Kepergian bunda 3 tahun lalu masih menyisakan luka. Entah apa yang mampu mengobati semua ini.
Kedukaanku masih tersisa sejak kepergiannya. Aku masih merekam detik-detik kepergian Bunda di kepalaku. Bagaimana reaksi orang-orang, kepanikan, tangis, semuanya. Mungkin aku yang menangis paling kencang saat itu. Bagaimana aku harus membalas kerinduan setelah apa yang terjadi padaku dan hidupku hari ini. (14 Agustus 2008)
Aku ingin lupakan, aku ingin pergi dari luka lamaku. Aku ingin menatap masa depanku penuh senyum bahagia, penuh mimpi dan harapan. Tuhan, jika memang ini caramu untukku lakukanlaah. Aku mohon yang terbaik. Aku tak ingin terus terpenjara dengan keadaan ini. Harusnya aku IKHLAS bukan hanya kata 'YA'.
“Every stories has an end. But in life, every end is just a new beginning.”From “Up town Girl” movie.
Coretan Pena Ibu
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis besarnya gunung
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis panjangnya jalan
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis tingginya langit yang biru
Akan tetapi…
Besarnya gunung yang kau tulis
Tidak bisa menandingi besarnya cintamu padaku
Akan tetapi…
Panjangnya jalan yang kau tulis
Tidak bisa melebihi kasih sayangmu padaku
Akan tetapi…
Tingginya langit yang kau tulis
Tidak akan melebihi tingginya jasamu padaku
Bunda…
Engkaulah pelita cahaya
Di kala kegelapan menyelimuti jiwaku…
Seneng deh kalau lagi ngebayangin tentang masa kecil dulu. Sekedar mengingat-ingat dan membandingkan antara masa kecil dulu dan masa sekarang. Hmmh, oke coba lihat yah satu persatu yang mungkin hilang dari peradaban. Haha. Lebay banget. Kebersamaan, kesederhanaan, kejujuran, dan ketekunan. Dulu nih, waktu masih kecil biasanya asik banget kalau lagi maen bareng temen-temen. Walaupun masih suka berantem. Kadang kalau lagi kejar-kejaran rebutan mainan sama temen pas kecil dulu suka nangis kalau lagi jatuh, nah udah kayak gitu pasti terpancar wajah tegang para ibu yang sedang mengawasi kita sambil bilang, ‘Dek, hati-hati dong kalau maen. Jangan rebutan maenan gitu. Pinjem yang baik, maennya gantian!’. Haha. Terharu deh kalau inget kayak gitu, masih kental banget kan kebersamaannya. Waktu kecil dulu juga sering tuh duduk di teras rumah, mainan boneka, ngarang-ngarang cerita aneh dan gak jelas. Mulai boneka yang jadi penjual rujak sampai demam teletubbies yang seolah mewajibkan anak untuk menceritakan setiap episodenya pada ibu. Hanya tawa kecil dan menjadi pendengar yang baik ketika menceritakan sesuatu sudah cukup membuat aku bahagia. Waktu itu. Waktu berjalan cepat dan masa lalu telah terlewat. Tapi, hidup adalah pilihan. Apapun yang kita pilih di masa depan, dan mau kita kenang atau buang masa lalu. Itu pilihan.
Cerita ini aku tulis setelah pulang dari rumah salah seorang saudara dari Jogja. Aku biasa memanggilnya ‘bulek’, aku tak tahu artinya sih tapi ya setidaknya itu mewakili kedekatan kami. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di kamar kostnya yang cukup luas itu hanya untuk share dan melepas penat. Biasanya sore setelah pulang sekolah hingga malam hari. Entah kenapa aku merasa nyaman disana, seperti ada atmosfer positif yang mendorongku untuk selalu melakukan apapun dengan maksimal. Sore itu, seperti biasanya aku menonton tv sambil mengerjakan tugas sekolah.
“Far, kok tumben belajar. Ha ha ha.” Kata bulek yang baru selesai mencuci piring.
“Wah ngledek nih! Ya biar pinter lah. Aku kan emang rajin dari dulu.”
“ha ha ha. Sok serius ah, belajar kok sambil sms an.”
“JANGAN GANGGU!” kataku dengan keras.
“ha ha ha”
Meski sesekali terpaku pada tayangan televisi, akhirnya tugas sekolah itu selesai juga. Ya, butuh waktu dua jam menyelesaikan 50 soal matematika dan sosiologi. Akupun membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Kulihat jam dinding di atas tembok yang ternyata sudah menunjukkan pukul 16.30 dan aku bergegas mengambil air wudhu kemudian sholat. Hmh, tiba saatnya melepas lelah dengan berbaring di atas kasur dan menyalakan mp3 dari handphone.
“Ojo serius-serius to lak ngerjakne. Mumet ngko!” Kataku menjaili bulek yang sedang menginput data ke laptop.
“Halah, wes arepe rampung iki, Far.”
“Ah, sebentar lagi kuliah ya. Gak terasa udah 3 tahun di SMA.”
“Iya ya. Hmmh, jadi ambil jurusan apa? Dimana?”
“Mau ambil komunikasi di UB ” kataku dengan yakin
“Yakin? Ya bagus deh, sesuai dengan minat dan bakat kamu.”
“Kuliah itu gimana sih?” tanyaku penasaran
“Kalo gak kuliah di luar kota itu gak ngrasain yang namanya perjuangan. Gak ada tantangannya.”
“hmmh. Ciyus? Miapa? hahaha” kataku meledek
“Kuliah itu gak kayak SMA loh. Harus mandiri, disiplin, dan tahu diri. Harus lebih rajin belajar dan baca. Ya pokoknya kalo ambil jurusan harus di sesuaikan dengan minat dan bakat. Jangan sampai salah jurusan.”
“Iya tau kok.”
“Udah deh, apapun itu jika kita lakukan dengan rasa senang dan ikhlas pasti enak ngejalaninnya. Yang penting sekarang berusaha biar bisa masuk fakultas yang kamu inginkan”.
“Ah pusing deh mikirin itu. Mumpung lagi buka laptop, lihat donk foto-foto pas jamannya kuliah.”
Aku tertawa geli ketika melihat foto-foto bulek di laptop itu. Rasanya ada perubahan sangat banyak dialami bulek. Seperti ada aura positif dan semangat pada dirinya sekarang. Berbanding terbalik dengan foto itu.
“Dulu ya Far, waktu lulus SMA. Aku tuh gak ada niat buat kuliah, ya soalnya gak ada biaya. Kan adek aku juga banyak, masih sekolah juga. Tapi gak tau kenapa akhirnya kuliah.”
“Emang kuliah dimana? Kok bisa?”
“di Jogja. Ya karena gak di awali dengan niat yang sungguh-sungguh, akhirnya menderita karena salah pilih jurusan. Tapi, prinsipku apapun yang aku jalani harus aku lakukan dengan maksimal.”
“Lah, bisa gak ngikuti pelajarannya?”
“Pas kuliah dulu aku merasa seperti orang yang paling bodoh. Padahal juga belajar lho, makanya kamu belajar yang serius. Jangan sampai merasakan apa yang aku rasakan dulu.” Katanya menasihatiku.
Sepertinya benar apa yang dikatakan bulek. Contohnya saja di sekolah, ketika aku tidak belajar atau mempersiapkan materi untuk besok, ada rasa percaya diri yang hilang. Meskipun sebenarnya apa yang guru sampaikan di kelas juga bisa kita dengar, tapi terasa aneh ketika mendapat ilmu baru tapi sebelumnya tidak membaca dasarnya. Terkadang dalam pendidikan, kita lebih sering mengejar nilai dan menghalalkan segala cara hingga melupakan akhlak yang baik. Padahal dulu waktu kecil, kita sering dan berulang kali di nasehati untuk selalu mengedepankan kejujuran.
“Kamu harus percaya bahwa ketika kita terbiasa untuk hidup jujur dan mandiri, tetap yang akan memetik keuntungan itu kita sendiri. Kalo udah bisa mandiri, kita akan terbiasa dengan kehidupan itu. Jadi gak akan terbebani.”
“Ya sebenarnya aku itu ya bisa mandiri loh. Tapi tertabrak alasan-alasan klasik akhirnya ya manja. Hahaha.”
“Lha iya, masa udah 17 tahun gak bosen kalau manja. Mulai sekarang belajar mandiri, biar kita terbiasa bersahabat dengan namanya kesulitan hidup.”
“Harus ya?”
“Iya lah. Harus, apalagi bentar lagi kuliah di luar kota. Siapa coba yang bisa nolongin kalo gak dirimu sendiri?”
“Iya ya. We can survive. Fighting. hahaha”
“Sebenarnya ya cita-citaku dosen, Far. Aku berdoa terus biar bisa kuliah S2, daftar dosen trus kuliah psikologi.”
“Oke sip tak doakan. Cita-citaku cuma pengen cerita. Jadi penulis maksudnya.”
“Oke sip, yang penting harus kuliah sesuai bakat dan minat. Pasti bisa. Soalnya gak akan terpaksa kalo menjalani. Tapi harus ada niat belajar biar bisa. Sekarang nikmati dulu masa SMA-mu. Masa paling indah itu.”
“ha ha ha…”
“Tapi gak punya pacar waktu SMA rugi lho, Far. Ha ha ha”
“hmmmh.”
Mendiskusikan sesuatu sederhana tentang sebuah langkah dan pilihan masa depan, menghabiskan waktu berjam-jam share tentang hal itu, memberi sebuah suntikan semangat dan atmosfer positif pada diriku. Meskipun aku tak selalu berada di ruangan ini, aku berharap akan selalu memberikan atmosfer positif bagi semua orang. Obrolan kami tadi seakan membuka mataku untuk bangun dan melihat keadaan sekitar, mengajarkan bahwa hidup bukan permainan. Sepertinya selama ini aku di butakan oleh keadaan. Rasanya aku kehilangan tawa lepas yang keluar dari hati, mungkin aku kehilangan saat-saat menghabiskan waktu dengan obrolan ringan bersama keluarga, sahabat, atau siapapun itu. Aku butuh masa lalu, aku ingin belajar dari masa lalu. Share tak akan pernah hilang dari dunia kita. Walau hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Itu pilihan.
Musim ujian telah tiba. Mulai dari ujian akhir semester, ujian sekolah, ujian praktek, ujian nasional, dan puncaknya adalah ujian melawan para pejuang ilmu demi sebuah kursi mahasiswa. Ya semacam fase dimana harus berpikir, bertindak, berusaha dengan maksimal, dan fighting. Kalau sudah musim ujian seperti ini gak ada lagi deh yang namanya santai. Pikiran dan perbuatan akan terfokus pada satu hal “ujian”. Entah apa yang membuat kata itu terdengar begitu ngeri di kalangan pelajar. Banyak yang bilang, ujian menjadi salah satu momok dan beban terberat. Semacam pertarungan sengit antara sel sperma dan sel telur untuk menjadi pemenang kehidupan. Ujian itu juga yang akan mengantarkan kami ke gerbang masa depan untuk menjadi pemenang.
Waktu itu setelah pulang dari latihan senam untuk ujian praktek sekolah, aku dan beberapa temanku beranjak ke café di pusat kota yang juga milik salah seorang temanku. Karena suntuk di rumah, tugas sekolahpun kami kerjakan disini. Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, café ini sangat klasik dan cocok buat kami yang sedang dilanda demam ujian. Biasanya kami memilih duduk di sofa sudut café dan memesan es cappucino. Es cappucino di café ini memang terkenal enak dan lain daripada yang lain, sebut saja itu menu andalan kami ketika nongkrong disini. Seperti biasanya, terjadilah obrolan ringan disela tugas yang menumpuk.
“Eh, perpisahan sekolah jadi kapan? Dimana?” tanyaku penasaran.
“katanya sih di sekolah aja, tapi ada prom night!” ujar Eldo, kepala suku kelas kami.
“Yah males deh, gak asik kalau di sekolahan.”
“Kayaknya asik nih kalau satu kelas liburan ke Semeru. Sekalian refreshing”
“Iya, kita butuh refreshing. Offroad asik nih!” Radit, salah seorang temanku menyela penuh semangat
“Lah, kok gitu? Kan lagi ngomongin perpisahan?”
“Eh, aku pernah loh sama papaku naik ke Gunung Arjuno. Bagus juga kok.”. ujar Radit dengan PD-nya
“Bakalan asik kalau foto album sekolah di Ranukumbolo. Klasik”. Usul kepala suku
“Plis deh, Semeru jauh. Ujian semakin dekat. Foto kelas bela-belain ke Semeru, pasti rumpi ah. Paling juga banyak yang gak diijinin sama orang tuanya.”
“Semeru deket! Sama kok kayak mendaki di Gunung Klotok. Cuma lewati satu bukit gunung. Nah, kan bisa sewa travel buat kesana?”
“Halooooo… Butuh waktu berapa lama? Iya kalo kuat, kalo gak? Emangnya gampang apa kayak gitu. Belum lagi kalau nyasar? Gimana coba? Udah deh cari yang deket-deket aja” Kataku tak setuju.
Tak ada jawaban dari teman-temanku, mereka tahu tak akan ada habisnya berdebat denganku. Lalu kami mulai asik dengan internet. Dan ternyata dua temanku sedang browsing tentang Semeru. Memang setelah film 5cm. tayang di bioskop, kami sering membicarakan tentang gunung Semeru. Dan kebetulan, nenek Eldo tinggal di daerah yang berdekatan dengan Gunung Semuru. Jadilah kami sering mendengar cerita tentang Semeru. Dan artikel yang mereka baca di internet saat itu mengawali cerita mistik tentang Semeru dan hal-hal di sekitar kami. Aku yang memang penakut, sebenarnya tak mau mendengarkan cerita itu. Tapi karena duduk kami hanya berjarak 1 meter, sudah pasti cerita itu terdengar di telingaku dan sukses membuat bulu kudukku merinding.
“Eh udah donk, takut nih!” kataku memaksa
“Tuh ada yang liat di belakang kamu. Gak usah dipikir, gak usah takut. Kalo takut justru didatengi loh.” Kata Radit sambil membacakan artikel di internet dengan suara lebih keras.
“Rese!”
“ha ha ha.” Si kepala suku hanya tertawa melihatku ketakutan.
“Udah deh itu cuma halusinasimu aja. Kalo takut ya kayak gitu jadinya. Parno!”
Enough!” kataku.
Misteri yang ada di Indonesia memang tak akan ada habisnya jika di ceritakan. Indonesia yang masih kental akan hal-hal mistik memang menyimpan sejuta misteri dan pertanyaan. Meskipun kita belum tahu kebenaran akan hal itu. Cerita mistik dari mulut ke mulut seakan menanamkan sugesti pada masyarakat bahwa hal itu memang ada. Hanya kita yang bisa menyaring, berpikir positif, dan rasional tentang cerita-cerita itu. Sama halnya dengan ujian yang sedang kami alami di sekolah. Terlalu memikirkan hasil akhir dan menjadikannya beban justru akan menanamkan energi negatif pada diri kami sendiri. Sugesti semacam itu yang kemudian akan mematahkan semangat belajar kami. Ujian sama halnya dengan cerita mistik, menyimpan misteri yang harus dipecahkan. Dan yang bisa memecahkan misteri itu hanya kita, diri kita sendiri.
Mungkin kita terlalu suntuk dengan aktifitas yang dilakukan, hingga pada suatu titik, mengalami masa kejenuhan. Adakalanya kita butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiran yang mulai jenuh. Kita hanya butuh istirahat sejenak dan refreshing. Selanjutnya kita bisa memecahkan misteri di setiap apa yang kita lakukan. Dan kami, Semeru mungkin akan menjadi tujuan liburan dengan segala pertimbangan.
"Tuhan, aku rindu...
Tuhan, aku tak pernah tahu kepada siapa lagi harus bercerita. Tentang semua keluh kesah, suka, duka, dan lika liku luka. Beberapa kali memakasakan diri bercerita pada orang-orang terdekatku, hasilnya sia-sia. Tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut mereka mampu menenangkanku. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku berantakan, rasanya seperti kehilangan diriku sendiri. Kehilangan dunia yang dulu aku banggakan. Kehilangan dunia yang dulu selalu kuhiasi dengan mimpi dan cita-cita.
Apa yang salah atas diriku? Aku mulai hilang akal. Tak tahu lagi apa yang kurasakaan saat ini. Rasanya mati rasa, tanpa rasa lain. Jalan mana lagi yang harus kupilih untuk kembali menjadi diriku sendiri? Butuh waktu berapa lama untuk me-recorvery kehidupan penuh mimpi itu? Haruskah aku mengalah dan menyerah karena keadaan?"
Tahu berapa kali kutuliskan kalimat itu dalam sebuah catatan kecil? Entahlah aku tak pernah ingin tahu dan menjawabnya. Butuh waktu yang lama untuk kembali menjadi diriku sendiri. Seperti daun yang menanti tetesan embun. Seperti pohon yang menunggu cahaya matahari untuk tumbuh. Perasaan kecewa, menyesal, dan terluka mungkin masih menyelinap di antara relung hati dan mimpi. Ingin rasanya membakar dan benar-benar hilang dari perasaan itu. Kembali menjadi diriku sendiri, menjadi apa yang aku mimpikan dulu.
Ya, aku akan bangun, bangkit, berdiri, bahkan berlari. Aku akan menjadi diriku sendiri, aku akan melakukan setiap apa yang kujalani dengan penuh harapan. Berselimut doa yang kupanjatkan, semoga Allah senantiasa membukakan jalan yang terbaik. Ini saat yang tepat untuk bangkit. Mati Rasa? End.
Bertahun-tahun sudah menikmati setiap waktu yang ada, entah untuk apapun itu. Pernah gak sih kita bertanya pada diri sendiri "Apa sih yang udah aku lakuin selama ini? Apa sih yang paling berarti selama ini?". Well, lagi-lagi muncul pertanyaan klasik yang terdramatisasi ketika mengucapkannya. haha. Seringkali aku menghabiskan waktu senja untuk duduk bersantai di salah satu monumen di kotaku. Uniknya monumen ini di desain mirip banget sama monumen Arc de Triomphe dari Paris. Bedanya monumen Simpang Lima Gumul(SLG) berada di tengah-tengah persimpangan Lima di Gumul, Kediri. Walaupun desain dan arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe, tapi ternyata ornamennya menonjolkan seni budaya asli Kediri. Di sekeliling monumen banyak banget ditumbuhi rumput yang biasa untuk santai dan ngumpul bareng temen. Klasik ya menikmati suasana senja di Arc de Triomphe ala Kediri.
Aku tak sendiri menikmati senja di monumen ini, biasanya sebotol minuman kaleng, beberapa bungkus snack, notes, kamera, dan salah seorang sahabat menjadi pelengkap rutinitas senjaku. Waktu itu di suatu senja kami duduk berdua di bawah langit yang teduh, udara yang sejuk, dan hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ketika itu mata kami tertuju pada gadis kecil yang berlari sambil tersenyum menghampiri kami.
"Halo adek manis... namanya siapa?" sapa sahabat saya
Gadis itu hanya tersenyum dan duduk di depan kami dengan manisnya. Memainkan rumput dengan jari jemarinya yang mungil sambil sesekali melirik ke arah kami. Tak lama, ibunya memanggil dengan suara yang cukup keras karena gadis itu berlarian cukup jauh dari orang tuanya.
"Adek sini, jangan ganggu kakaknya lagi ngobrol...". Tampaknya ia kaget dengan teriakan ibunya, gadis itu berlari ke arah ibunya dan bermain disana.
"Prim, sadar gak sih anak kecil tadi habis ngapain? aneh banget!" ucapku datar
"Ya biasa, namanya juga anak kecil pasti ya kayak gitu deh tingkahnya. Lucu kan?"
"Iya sih, tapi aneh. Perhatiin deh, daritadi maen dan lari-lari terus gak ada capeknya apa. Gak bisa diem banget kan?"
"Dia kan masih kecil, masih polos. Jarang-jarang kan di genit in sama anak kecil kayak gitu." Kata Prima sambil tertawa kecil
"Whatever lah"
"Biarin aja lah, biar dia menikmati masa kecilnya yang indah. Biasanya kita juga kangen masa kecil kita kan?"
Aku diam, kami berdua sama-sama diam. Orang-orang bercengkrama di sekeliling monumen, ada yang dengan keluarga, sahabat, pacar, dan banyak yang lainnya. Deru suara motor di jalanan menjadi tontonan yang biasa karena posisi monumen ini tepat di tengah jalan persimpangan lima. Hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas panjang seolah menenangkan diri.
"Apa sih yang kita cari disini?" Kataku mengagetkan Prima
"Pengen santai. Bosen kan tiap hari dengan rutinitas yang itu-itu aja."
"Kapan ya bisa kayak anak kecil tadi. Lari-lari, tanpa beban, bebas nglakuin apa aja yang dia suka. Yang ada dipikirannya cuma maen dan maen. gak ada yang lain!"
"Kan selama ini kita udah melewati semua itu. Gak mungkin kan kita kembali ke masa lalu."
"Ya enggak sih, rasanya sekarang gak bisa enjoy aja. Yang salah siapa donk kalau gitu? Kita? atau keadaan?"
"Gak ada yang salah sih. Mungkin kita sering lupa sama Tuhan, membiarkan diri kita terlena dengan apa yang namanya tanggung jawab. Sekarang kita udah jadi diri kita sendiri. Bedanya sama anak kecil tadi, dia masih mencari siapa dirinya."
"Iya ya, sudah saatnya kita mendewasa tanpa mengeluhkan apa yang terjadi. Mungkin keluhan-keluhan yang menumpuk itu membuat aku lupa siapa di balik semua ini. Tuhan."
"Life must go on kan?"
"Yah, Tuhan yang membuat kita kuat."
Dia hanya membalasnya dengan senyuman.
Ada satu hal yang perlu aku sadari dalam hidup ini. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Yang jarang disadari oleh remaja seusiaku. Bahwa sebenarnya Allahlah segalanya. Yang memberi hidup dan kehidupan. Maha pembolak balik hati. Sang pemilik segalanya. Hanya Allahlah yang memiliki segalanya, penolongku, cahaya terang di saat nurani mulai goyah, petunjuk saat otak mulai kehilangan logika, Maha segalanya. Dialah tujuan dari segala tujuan. Allahlah yang berhak atas nafasku, atas jiwaku, atas ragaku, ilmuku, atas jalan hidupku. Jalan hidup yang aku pilih tanpa paksaan. Karena semua ini milikNya.
Sedang merindukan masa-masa dimana bahagia itu selalu terukir, menghiasi setiap senyum yang mengembang. Yah, bisa dibilang ini adalah fase tersulit dalam hidup. Entah sudah kesekian kalinya aku keluhkan hal ini, tapi tetap saja keluhan itu tak pernah ada ujungnya. Keluhan tak berujung dari sebuah realita.
Ada kalanya manusia mengalami sebuah titik balik, masa kejenuhan, dan masa perubahan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Melampiaskan menjadi sebuah hal yang positif atau justru terjebak dengan hal yang negatif. Sama halnya dengan sebuah keluhan, berawal dari sebuah realita yang tak 'diharapkan' dan berujung penyesalan yang harus diterima. Penyesalan dan keluhan yang sebenarnya sama sekali tak berarti apa-apa.
Pada dasarnya, kita tau apa yg kita inginkan, apa yang orang lain inginkan dan apa yang pada akhirnya kita pilih. Namun seringkali kita tak menyadari baik atau buruknya sebuah pilihan itu. Dan karena itulah kerapkali keluhan muncul. Harus kuakui bahwa sebenarnya mengeluh salah dan tak ada gunanya. Sama artinya dengan tak mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Tapi, itulah manusia selalu mengedepankan ego tanpa memikirkan bagaimana dampaknya suatu saat nanti.
Setidaknya kini aku berhenti mengeluh dan mulai berpikir cerdas bagaimana menciptakan suasana yang mendamaikan dan membahagiakan. Melampiaskan semua masalah menjadi hal-hal positif yang dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Masih ada masa depan yang melambai padaku. SEMANGAT!!
Ada sebuah ingatan tentang masa kecil saya, dimana saya dan keluarga menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkeliling kota, menikmati setiap sudut kota, bercengkrama, dan bersenang-senang dengan setiap makanan yang kami nikmati. Jagung bakar, tahu petis khas Kediri, nasi goreng, soto ayam, dan apapun itu. Waktu itu semakin berarti ketika kini jarang sekali kunikmati lagi masa itu. Masa lalu itu its was fun. Rasa bangga dan rindu membuncah ketika teringat lagi masa kecil itu.
the past is a very beautiful memories when we are through with happiness. Very simple when happy it gives hope.
Malem readers...
ukh.... lagi stres berat nih gue. Stres tingkat akhir. Ukh, antara kalah dan menyerah. si Laptop masuk rumah sakit, hardisk masuk ICU, dan flashdisk lagi opname. Ukgh rasanya bertubi-tubi banget cobaan ini dateng. Disaat gue butuh data-data yang gue butuhin. Gue kehilangan semua dat-data gue.
Besok, deadline ngumpulin naskah lomba. Lusa ngumpulin hasil fotografi dan besok ngumpulin artikel majalah. Ukh hancuuur banget rasanya. Pengen kalah, menyerah, atau tetap maju? Gue gak bisa nyerah. ini tanggung jawab gue. tapi gue butuh kekuatan.
"Gue pengen nyerah. rasanya ingin menyerah.tapi mereka melawan dengan semangat.sebenarnya malu jika aku dikalahkan oleh virus.penentuan hanya tinggal 4 hari lagi."
Semua ada HIKMAHNYA. aku yakiin itu... ini pelajaran buat aku!
Cobaan memang tak pernah kita sangka datangnya. Tapi itulah yang kita butuhkan untuk menguatkan hati kita. Cobaan itu yang menegur kita agar lebih siap menghadapi masa depan. Keep spirit. Ayooo semangat lagi!
Antara Kalah dan Menyerah!
Hai readers… kangen sama kalian nih readers. Gimana kabar kalian dan kabar liburan kalian yang segera berakhir ini?. Semoga menyenangkan. Hahaha. Gimana juga perasaan kalian soal liburan yang akan berakhir ini?. Semoga masih bahagia dan tidak kecewa.
Tujuh hari mulai Jumat, 1 Juli 2011 sampai 7 Juli 2011 gue di rumah sakit. Tenang aja bukan gue yang sakit. Tapi adek bungsu gue. Muntah-muntah gitu deh. Gak tau deh kenapa sampe ke rumah sakit segala. Kayaknya sih udah sampe dehidrasi gitu. Gak betah tidur di rumah mungkin dan lagi pengen liburan di rumah sakit kali. Oke deh gak usah bahas adek gue. Sekarang dia udah sembuh. Hahaha. Tapi gue sedih banget.
Readers tau gak kenapa gue sedih banget?! Disana gue kenalan sama perawat yang ngurusin adek gue. Namanya Woro #gue lupa apa nama lengkapnya. Hemh, gue gak sempet ngobrol banyak sama dia #sok jaim. Hahahaha. Pertama ngeliat kayaknya tuh orang udah gak asing lagi buat gue dan gue ngrasa kenal banget sama dia. Gak tau ya kenapa gue jadi ngefans sama dia. Emh, bukan ngefans, lebih tepatnya kagum. Pawakannya yang kalem dan sabar bikin orang jadi betah sama dia.
Tadi malem (7 Juli 2011) gue gak bisa tidur. Gue duduk di depan kamar aja. Emang sengaja sih pengen liatin perawat itu. Haha. Eh ternyata dia mondar mandir ngurusin pasien yang lagi rewel. Maklum, pasien di ruang melati emang anak kecil-kecil. Bayi dan balita gitu deeh. Tapi gak jarang ada anak gerang juga #ya remaja maksud gue. Hahaha. Eh udah jam 3 pagi gue masih di depan. Di tanyain sama perawatnya “Mbak gak tidur?”. Hehe. Gue Cuma diem dan senyum aja. Habis itu gue masuk kamar deh tidur. Eeh adek gue malah bangun minta tidur di bawah. Yauda deh gue tidur di tempat tidur pasien. Baru sejam tidur, susternya tiba-tiba masuk bawa thermometer. Kanget gue dan otomatis bangun jadi salting (salah tingkah) gitu. Dengan mata yang ngantuk banget gue perhatiin tuh perawatnya. Haha. Waktu lagi benerin thermometer di tempat tidur gue, basa basi gue tanya. “mbak, jam brapa sekarang?”. “Jam empat lima belas dek.”. di jawab gitu sama dia. Haha. Gue seneng banget.
Mungkin 7 hari itu gue lagi ‘gak waras’ lagi ‘aneh’ deh. Bisa-bisanya kelakuan gue kayak gitu sama tuh perawat. Aah sudahlah biarkan saja aku seperti itu. Aku senang, aku bahagia, dan aku nyaman seperti itu. Tapi sayang banget tadi pas adek gue pulang (jam 12.00) gue gak sempet ketemu tuh perawat. Sedih deh. Mau gimana lagi. Iiih kangen deh. Haha. Kapan-kapan maen kesana ah. Hehe. Setiap orang pasti pernah melakukan hal ‘gila’. Mungkin seperti saya. Tapi bukan berarti itu ‘menggelikan’. Cara menciptakan kebahagaiaan dan menikmati kesenangan bagi setiap orang berbeda.
hai readers sorii gue lama gak ngeblog... emh lagi ada problem.. dan gara-gara itu semua gue jadi gak nulis diary sebulan lebih. Sh*t! ok deh, well, gak penting banget buat dibahas!
Emh, selama gue gak nge-blog. Sebenernya mau ada banyak banget yang mau gue ceritain. Tapi sayangnya gak semuanya layak diketahui publik. Sorry ya readers!! Gue akan berbagi dikit aja yaah...
Yang menggembirakan:
1. Gue udah liat expo di SMAST (SMAN 1 Kediri)
2. Gue dapet bukunya bang Raditya Dika
3. Gue udah siapin online shop sama temen-temen gue
4. Gue udah sedikit lega bisa cerita masalah gue ke guru SMP gue #yang berarti belum sepenuhnya
Yang menyedihkan:
1. Ah, gue benci semua ini. Seandainya gue gak salah ngomong dua tahun lalu. (Mulut gue membisu dan terpaksa bilang "ya" saat gue pergi makan di salah satu tempat makan di kota gue yang terkenal pedes abis #tapi bagi gue gak terlalu pedes.)
2. Gak tau kenapa akhir-akhir ini gue sering nangis sendiri gak jelas. Entah karena apaan gue juga gak tau. Yang jelas sakit banget rasanya tapi gak ada yang bisa ngobatin kecuali diri gue sendiri. Dan ini jawaban sms dari guru gue saat gue curhat sama Beliau #cuma dia yang bisa gue ajak curhat. Gue gak bisa terbuka sama semua org.
14 Juni 2011; 15:45:47
Dari: Guru BK gue
"mb mikir apa?
kl b y* boleh tau cb ceritakan.
pasti ada ssuatu yg dipendam.
hrs yakin smuanya pasti ada jln keluarnya..."
14 Juni 2011; 16:21:07
Dari: Guru BK gue
"ya biar fresh lh crita ke b y* jg gpapa kok, b y* siap untuk mendengarkan ceritanya mb. Udah ah senyum dulu ntar tambah jelek lho kl cemberut trus, hahahahaha"
Udah ya cukup segitu aja sms yang gue posting.
3. Gue sebel gara-gara gue cuma dapet 2 buku dari raditya dika #tapi bersyukur aja lah. Daripada gak dapet
4. Hidup gue gak tenang gara-gara masalah ini. Gue jadi hancur dan pengen pergi dan tak kembali.
5. Gue rindu masa kecil gue. Gue rindu smua yang dulu yang bisa buat gue ketawa.
6. Gue gagal nonton bang Dika di Provocative proActive kemarin 16 Juni 2011 di Metro tv.
Dan akhirnya semua kesedihan dan kegembiraan itu membuat gue gak bisa bangun tidur dan gak doyan makan. Gue pengen lari tapi gue gak bisa. Gue pengen nangis, tapi udah berapa banyak airmata yang jatuh buat hal yang gak penting. Sialnya lagi, akhir-akhir ini gue gagal jalani rencana gue yang seharusnya udah sukses. Aah, betapa amat menyebalkan sekali. Gue kangen diri gue yang dulu, Gue kangen diri gue yang seperti karang. Yang selalu kuat walau ombak menerjang.
Gue sadar gue salah atas semua ini. Dan gue sadar semua berawal dari kata-kata gue dua tahun lalu. Tapi, semua udah terjadi dan sulit untuk diakhiri. #Meskipun sebenernya gue tertekan banget.
Dan pada akhirnya gue menyadari bahwa semua itu karena "Gue jauh banget sama Tuhan. Gue jarang Sholat. Aah, aku rindu semua itu."
Gue harap semua akan lebih baik dari ini.
Hai readers.. sorii nih lama gue gak posting di blog!! Kali ini gue akan sedikit berbagi cerita.
Gak tau kenapa sore ini gue lagi kangen banget masa kecil gue. Kangen semua yang pernah gue alami dulu. Gue kangen ngaji sore di sekolah, gue kangen sore-sore nungguin tukang sate lewat, gue kangen ujan ujan di dpan rumah sambil mainan perahu kertas, gue kangen banget makan ice cream sampe belepotan smuanya, aaah masa kecil gue terlalu indah untuk dilupakan!
Sayang seribu sayang, kini rasanya semua itu lenyap. Udah gak ada artinya lagi semuanya. Udah gak berbekas. Gue ngrasa masa kecil gue hilang. Hilang karena gue juga kehilangan semuanya. Kehilangan bunda gue. Gue rindu banget semuanya. Kadang gue mikir, kapan gue bisa kembali ke masa itu? Kapan gue bisa sekali aja nikmatin masa itu lagi. Sekarang hidup gue udah berubah. Gue jadi seorang yang pendiem dan cuek. Gak mau tau apapun. Kenapa gue gini??
Pernah terbersit daam pikiran gue "Gue pengen berubah. Cukup sudah gue tersiksa dengan luka masa kini yang ngrubah hidup gue. Please God, Help me to change my life!.
Ahh... Saat saat terindah itu. Aku rindu. Kini semua tak pantas ditangisi, tak untuk disesali. Cukup dikenang sebagai kenangan yang terindah. Suatu saat gue pasti kembali.
"Tak kan pernah habis air mataku bila kuingat tentang dirimu. Dan jujur aku tak kuasa saat terakhir kugenggam tanganmu."
Kerispatih
Tak ada yang abadi. Satu kata yang tak pernah terbantahkan oleh apapun. Begitu juga yang terjadi. Kepergian bunda 3 tahun lalu masih menyisakan luka. Entah apa yang mampu mengobati semua ini.
Kedukaanku masih tersisa sejak kepergiannya. Aku masih merekam detik-detik kepergian Bunda di kepalaku. Bagaimana reaksi orang-orang, kepanikan, tangis, semuanya. Mungkin aku yang menangis paling kencang saat itu. Bagaimana aku harus membalas kerinduan setelah apa yang terjadi padaku dan hidupku hari ini. (14 Agustus 2008)
Aku ingin lupakan, aku ingin pergi dari luka lamaku. Aku ingin menatap masa depanku penuh senyum bahagia, penuh mimpi dan harapan. Tuhan, jika memang ini caramu untukku lakukanlaah. Aku mohon yang terbaik. Aku tak ingin terus terpenjara dengan keadaan ini. Harusnya aku IKHLAS bukan hanya kata 'YA'.
“Every stories has an end. But in life, every end is just a new beginning.”From “Up town Girl” movie.
Coretan Pena Ibu
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis besarnya gunung
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis panjangnya jalan
Bunda…
Kau coretkan penamu diatas secarik kertas putih
Untuk menulis tingginya langit yang biru
Akan tetapi…
Besarnya gunung yang kau tulis
Tidak bisa menandingi besarnya cintamu padaku
Akan tetapi…
Panjangnya jalan yang kau tulis
Tidak bisa melebihi kasih sayangmu padaku
Akan tetapi…
Tingginya langit yang kau tulis
Tidak akan melebihi tingginya jasamu padaku
Bunda…
Engkaulah pelita cahaya
Di kala kegelapan menyelimuti jiwaku…