akan ada sebuah waktu dimana kita akan berdiri penuh rasa bangga. The winner stands alone
Menjadi sangat tertantang ketika melihat banyak novel karya teman-temanku terpampang di toko-toko buku, atau merasa tergerak ketika banyak karya tulis dari teman-temanku juga berhasil menjadi jawara. Yah, semakin hari seperti mendapat sebuah tekanan batin kenapa aku tak beranjak pergi dari rasa suntuk dan segera take action. Menjadi sebuah hal penting bagiku ketika suatu saat aku bisa membanggakan Ayah, Bunda, dan mereka semua yang kukenal dengan sebuah ‘masterpiece’ yang bisa kupersembahkan.
Waktu demi waktu berlalu. 1 tahun pun terasa amat singkat yang dipenuhi dengan rutinitas ‘pemimpi’ untuk menjadi seorang penulis. Alunan musik mellow, secangkir kopi, udara sejuk, suasana café yang klasik, dan menjadi penikmat kesunyian adalah sebuah fragmen yang bisa dibilang ‘aku banget’. Ketika menikmati secangkir kopi di salah satu café klasik di Kotaku, Kediri. Muncul sebuah pertanyaan yang seringkali membayangiku sebelum tidur, pertanyaan lama yang kerapkali menghabiskan waktu lamunanku. “Udah menciptakan sejarah apa tahun ini? Gimana dengan mimpimu?”. Orang lain boleh bilang itu hanya pertanyaan bodoh dan tak penting. Tapi bagiku, itu menjadi sangat menantang untuk membuktikan seberapa besar mimpi dan cita-citaku.
Beberapa pertanyaan lain juga kerapkali dilontakan oleh teman seperti, “Gimana udah kirim novel kemana? Kapan mulai terbit?”. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menguras tenaga dan pikiranku setiap waktu. Hmh, tampaknya harus segera take action untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tapi sepertinya bukan hanya take action yang dibutuhkan, juga diperlukan konsisten melangkah satu persatu melewati tujuan-tujuan kecil untuk meraih tujuan tertinggi. Tak mudah memang, tapi apa salahnya belajar ‘mendisiplinkan diri’ demi sebuah mimpi.
Sebagai seorang pelajar SMA yang beberapa bulan lagi akan menjadi mahasiswa, akan sangat penting dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ketika masa muda ini dipenuhi dengan ‘masterpiece’ (karya agung). Itu adalah mimpi, mimpi untuk menciptakan masa muda yang indah dan bisa diabadikan menjadi sebuah masterpiece. Tahun ini, tak ada harapan yang lebih indah selain mewujudkan setiap mimpi. Melakukan apa yang bisa aku lakukan dan menjadi yang terbaik. Seiring berakhirnya tulisan ini, semoga selalu terbuka jalan terbaik di setiap waktu dan kesempatan yang kita dapatkan dan semoga Tuhan senantiasa meridhoi setiap langkah yang kita pilih. Amiiin.
This is my choise, and maybe I think this is my dream. My dream for good future. Althought I don’t know about future, about my way, about everything in future. But at least I do the right things now.
Sebuah Cerita Tanpa Koma!
Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi, tanpa peduli siapa pelakunya dan apa yang dilakukannya. Waktu memandang semuanya sama. Jika tidak bisa menjadi yang terbaik hari ini, jangan harap akan menghasilkan yang terbaik hari esok. 24 jam seakan berlalu tanpa terasa bagi kami. Setiap detik waktu yang berjalan menjadi sebuah cerita tanpa koma. Puluhan ide dan cerita memberontak memenuhi otak menuntut untuk segera dituangkan dalam berita.
Tak ada batasan waktu bagi kami, tak ada koma dalam dunia kami. Dunia kami menuntut untuk selalu menghasilkan yang terbaik dan berkualitas. Meskipun sejenak melupakan masa indah hidup kami, semua itu demi mimpi kami untuk selalu menjadi yang terbaik. Kami bercerita tanpa koma, berlari mengejar realitas. Waktu dan pena setia menemani hidup kami. Karena dengan itu kami kuat.
Jika orang lain mati meninggalkan bangkai, kami tak akan mati. Kami menulis lembar demi lembar yang menjadi saksi dan kekuatan untuk tetap dikenang hingga kini. Menjadi saksi hidup kami dan mereka. Semuanya terekam indah dalam goresan pena. Kata-kata yang menjadi ekspresi indrawi, penekanan yang mewakili emosi, dan semua cerita yang menggambarkan kebahagiaan. Dengan harapan kami akan selalu bermanfaat bagi sesama dan tetap memberikan kontribusi positif bagi perkembangan media massa.
Yeah, waktu itu tak sengaja mataku memandang setumpuk buku di sudut ruang. Ruang bercat hijau dengan lukisan pohon di dindingnya. Di beberapa sudut tertempel kata-kata motivasi dan beberapa hasil jepretan si kamera. Di lantainya juga berserakan draft dan coretan tentang masa depan. Meski tak terlihat rapi, ya semoga kelak ruangan ini bisa menjadi saksi bagaimana sebuah karya terlahir. Apapun yang tergambar dari ruangan ini, tetap saja buku di sudut meja itu menarik perhatianku untuk mengamatinya. Sejurus kemudian, aku berjalan penuh tanda tanya mengamati tumpukan buku itu. Buku-buku berdebu itu terlihat usang dan kurang terawat, mungkin ada unsur pembiaran karena si penulis buku itu malu bahkan takut untuk membaca kembali kenangan masa itu. Dan si penulis itu adalah saya sendiri.
Meniup debu dari buku yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik untuk saya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Bercerita tentang setiap proses pencapaian mimpi. Saya teringat ketika pertama kali menulis pada lembaran buku itu, sebagai seorang anak yang menuangkan ide dan pikirannya pada sebuah buku dengan perasaan bangga dan bahagia. Waktu itu saya berpikir bahwa setiap apa yang saya tuliskan bisa menjadi kenangan dan saksi perjalanan hidup yang tak terbantahkan, yang tentunya saya tulis sendiri.
Tanpa disadari sayapun mulai tertawa geli membaca tulisan-tulisan itu, padahal menertawakannya sama artinya menertawakan masa lalu yang terekam dalam buku itu. Yah memang benar-benar ingin tertawa dan
ketika membaca tulisan anak SMP -waktu itu-. Terlihat sekali perbedaan tulisan-tulisan saya waktu dulu ketika masih SMP dengan sekarang, ya karena dulu lagi trend tulisan alay jadi diary ini juga memakai gaya bahasa alay. Hehe. Jika dikaji lebih mendalam sebenarnya jauh sekali dari teknik penulisan yang baik dan benar. Walaupun sekarang saya masih aktif menulis diary dan tulisan lainnya, saya masih merasa tulisan ini jauh dari kata sempurna. Selalu ada perasaan yang berkecamuk untuk mendoktrin bahwa tulisan saya jelek.
Namun dari semua itu, terlepas dari berbakat atau tidak, saya tetap merasa bangga dengan tulisan-tulisan itu yang menjadi bagian dari perjalan hidup saya sebagai seorang penulis. Setiap momen yang saya tulis menjadi sebuah cerita sekan mampu memutar kembali imajinasi saya ke masa lalu yang penuh kenangan. Memang terkadang momen-momen itu memenuhi ruang otak dan menjadi penyuntik semangat untuk tetap berkarya dalam keadaan apapun. Setiap proses yang dilalui demi sebuah impian menjadi seorang penulis terus mewarnai setiap lembar diary menjadi sebuah rangkaian cerita.
Waktu itu ketika masih duduk di bangku SMP memang sudah terbayang bagaimana rasanya menjadi seorang penulis. Tanpa pikir panjang waktu itu, saya deskripsikan bahwa seorang penulis hanyalah seseorang yang bisa mengekspresikan berbagai hal dan suasana tanpa harus berpikir keras dan mengorbankan waktu, juga tidak menguras tenaga, hanya menuangkan setiap rasa dan ide yang berkecamuk dalam otak dengan tambahan sedikit bumbu dan meramunya menjadi sebuah cerita.
Bagi saya menulis adalah sebuah wahana ekspresi tanpa batas. Sebuah cara pelampiasan yang saya pikir tidak akan merugikan siapapun. Hanya saya dan tulisan itu yang tahu. Bahkan mungkin jika tulisan-tulisan itu dibaca orang lain akan menjadi sebuah cara unik untuk berbagi dan share tentang apapun. Menulis adalah sebentuk ekspresi indrawi untuk meluapkan segala emosi, keluh kesah, canda tawa, dan bahagia.
Yah, pikiran yang dulu sesimple itu kini mampu menuliskan berbagai cerita. Cerita yang terkadang jauh dari realita. Seiring berjalannya waktu, sayapun mulai ‘serius dan bertanggung jawab’ atas pemikiran masa lalu itu. Membuka kembali diary itu membuat saya sadar bahwa ada sebongkah impian yang harus ‘dipertanggungjawabkan’ sekarang dan di masa depan, mimpi untuk menjadi seorang yang dibanggakan dan memiliki sesuatu untuk tetap dikenang hingga nanti. Yah, semacam pembuktian diri atas sebentuk cita-cita yang tertanam sejak kecil.
Terasa sekali perbedaan dalam diri saya ketika menulis diary di masa lalu dibanding tulisan-tulisan saya sekarang ini. Diary masa lalu saya mencerminkan bahwa dulu ketika menulis hanya sedikit sekali pesan yang tersampaikan. Hanya sebuah tulisan yang mewakili segala emosi dari sebuah momen yang benar-benar terjadi, tertuang jujur dalam tulisan tersebut. Hingga kini tulisan-tulisan masa lalu itu menjadi semacam kekuatan dan kebanggaan bagi diri sendiri bahwa saya bisa dan mampu merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang indah.
Setelah sekian lama lelah berlari melewati setiap proses menggapai impian untuk menjadi seorang penulis. Setumpuk diary di sudut ruangan itu mengingatkan saya untuk berhenti menulis dalam konteks yang lain. 2 tahun terakhir ini saya lebih sering menghabiskan waktu menulis di laptop. Lebih simple dan mengurangi kram di tangan. Tapi kekuatan menggoreskan pena di setiap lembar buku tetap memanggil nurani saya untuk kembali menuliskan setiap momen pada diary bukan pada alat digital. Goresan demi goresan yang mewarnai setiap cerita memiliki kesan tersendiri, karena dari goresan itu saya belajar dari kesalahan untuk melewati proses selanjutnya. Lebih tepat dikatakan bahwa saya rindu menulis dengan segala emosi yang mewakili setiap momen. Dimana saya sangat leluasa dan bebas menuliskan setiap ekspresi tanpa batas dari ladang harapan yang tak pernah mati. Hati.
“Tuhan pasti telah memperhitungkan amal dan dosa yang kita perbuat. Kemanakah lagi kita kan sembunyi, hanya kepadaNya kita kembali. Anugrah dan bencana adalah kehendakNya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar. Adalah Dia di atas segalanya.”
Awan berarak mengelilingi langit. Menghapus senja menyambut bintang. Tetes demi tetes hujan turun di antara kilatan petir dan gemuruh guntur. Terbersit sebuah kenangan dalam balutan luka. Dan seluruh alam-pun sempat bersaksi bagai sebuah memori penting. Antara Kalah dan Menyerah!.
Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi. Detik, menit, jam, sehari, sebulan, tahun… dan seakan semuanya sia hanya berbalut luka. Berapapun lamanya Engkau bertahan dalam duka, waktu tak akan pernah memperdulikanmu. Bahkan hanya untuk sedetik saja, sekedar membawamu ke masa itu. Masa dimana hatimu masih terukir bahagia. Dimana pikiranmu tak pernah terjamah sesal, kecewa, dan apapun itu yang mereka katakan tentang ‘kesedihan’.
“Tuhan, apapun jalan yang aku pilih. Sekalipun itu adalah pilihan terburuk. Aku mohon Engkau tetap menunjukkan kebenaran suatu saat nanti”.
Saat ini adalah fase tersulit yang harus dilewati. Fase dimana seluruh kekuatan lahir dan batin harus dikorbankan. Entah berapa lama waktu yang sudah terbuang untuk berusaha kembali menatap masa depan yang dulu begitu gemilang. Menjadi seorang yang membanggakan!. ‘Lama tak terlihat bayangmu dalam hidupku’.
Apapun itu, hendaknya kita tetap berpikir positif dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Menjadi pribadi-pribadi yang dirindukan kebaikannya. Menjadi pribadi yang benar-benar diperhitungkan di masa depan. Yang lalu hanyalah sebuah kerikil kecil yang terkadang tak pantas untuk di tangisi. Masih ada masa depan yang lebih baik dengan pribadi-pribadi yang lebih powerful dan mempercayakan tugas besar kepada kita. Dalam hidup, setiap akhir cerita adalah sebuah awal baru menuju kebahagiaan! Bahagia itu pilihan!
“Ikhlas bukan berarti pasif dan pasrah pada segala hal, tapi bentuk ke
tegaran hati yang dibentuk oleh kejujuran pada diri sendiri dan kenyataan”
POTRET 6: Segalanya Ada Jalan Keluar!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik Lensa“Tak ada penyakit yang tak ada obatnya.” Begitulah kutipan bunyi dari sebuah hadist yang pernah saya baca. Pada intinya semua penyakit pasti ada obatnya dan pasti bisa sembuh jika kita mau berusaha untuk sembuh dan berobat. Jaman sekarang ini telah banyak teknologi canggih dan dokter yang handal untuk mampu membantu menyembuhkan suatu penyakit namun sekarang ini penyakit makin beragam jenisnya dan mudah menyerang siapa saja.
Gue sendiri sekarang ini lagi sakit dan menurut dokter hal ini cukup parah dan harus diobati dengan rutin. Awalnya kaget memang kenapa gue bisa mengidap penyakit yang selama ini masih banyak penderitanya dan sulit dicegah. Gue gak akan sebutin apa sakit gue tapi ini nih cirri-cirinya. Disebabkan oleh bakteri dan merupakan salah satu penyakit penyebab kematian terbesar di dunia. Gue berharap hidup gue masih bisa terselamatkan dan gue bisa sembuh dari sakit ini.
Udah 2 tahun lamanya gue mengidap sakit ini. Udah 2 tahun pula gue gak terapi dan gak minum obat sama sekali. Gue juga gak tahu gimana perkembangan bakteri tersebut di dalam organ tubuh gue. Yang jelas, gue baru sadar tentang apa yang harus gue lakuin akhir-akhir ini. Gue selalu cuek dan diem kalo orang lain ngomongin soal penyakit gue ini. Mereka tahu gue sakit ini tapi gue pura-pura gak tahu sakit gue. Bukannya gue angkuh atau sombong tapi gue lebih gak mau mikirin penyakit gue. Paling juga bisa sembuh sendiri. Piker gue waktu itu.
Setelah 2 tahun itu badan gue sering sakit dan kadang muntah-muntah. Gue tetep cuek aja karena gue tetep kukuh gak mau mikirin penyakit ini. Besoknya setelah gue muntah-muntah, gue cerita ke guru gue. Gak usah gue sebutin yah siapa nama aslinya. Biasa gue panggil Bunda. Waktu itu pas jam istirahat. Gue ke ruangannya beliau. Gue cerita mendetail dan wawh kena marah besar lah gue. “Mbak, kamu itu sakit parah. Kenapa baru cerita sekarang? Terus selama ini gak minum obat? Obatnya dibuang? Dengerin Bunda ya mbak, kamu itu terlalu banyak mikir tapi gak di imbangi dengan makan yang teratur. Yaudah pokoknya nanti sore Bunda anterin ke rumah sakit.”. dan itulah sepenggal kemarahan yang menyadarkan gue. Hmh, gue Cuma diem, merenung, nangis, pengen teriak, dan semua emosi dalam diri gue bercampur jadi satu. Ngerasa bersalah sih iya, kalo ditanya orang ‘Kamu nyesel gak?’ gue jawab NYESEL BANGET. 2 tahun waktu yang lebih dari cukup untuk menyembuhkan penykit ini. Gue juga sempet periksa sampai di labolatorium juga, obat juga udah ada. Kenapa gue buang sia-sia kesempatan itu. Kata temen gue “Emang ini kan yang kamu pengen dari dulu. Gak pengen bisa sembuh. Cuek. Gak peduli siapa-siapa. Sekarang baru sadar kalo sakitnya udah parah dan baru pengen sembuh sekarang? Inget, kamu hidup buat siapa dan untuk apa? Masa lalu hanyalah kenangan yang tak harus selalu ditangisi. Manusia punya jalannya masing-masing.”. Seketika itu gue bertekad untuk sembuh dan melanjutkan hidup dan mimpi gue yang sempat tertunda.
1 minggu berlalu sejak gue pergi ke pengobatan tradisional. Gue mulai rutin minum obat. Makan teratur tanpa sambal dan minum tanpa es. Dulu, gue gak mau makan kalau gak ada sambalnya, gak mau minum kalau gak pakai soda. Kadang makan juga cuma sehari sekali, tenaga gue diforsir habis-habisan demi ngerjain hal-hal yang gue suka sampai larut malam. Aah, insomnia dating lagi. Sejenak gue harus meninggalkan kebiasaan buruk gue itu dan mencoba pola hidup sehat serta minum obat secara teratur.
Sebenarnya banyak orang yang peduli sama gue, bahkan kalo gue butuh apapun sahabat gue selalu ada disamping gue. Nasehat mereka terlalu berarti untuk di buang dan sayangnya gue baru sadar sekarang. Penyesalan selalu datang di belakang. Kita bukan malaikat yang tak pernah melakukan dosa, kita bukan benda mati yang tak pernah merasa, kita manusia yang dikaruniai jiwa dan raga untuk selalu bersyukur dan melakukan apa yang diperintahkanNya. Manusia hanyalah manusia yang terkadang lupa diri dan penuh khilaf. Setidaknya ketika kita sedang diliputi masalah, ada orang lain yang sanggup mengingatkan kita. Dan ketika itu pula Tuhan menguatkan hati kita dan mengingatkan untuk selalu bersyukur atas apa yang ada. (farah)
Potret 5: Let It Flow and Enjoy With It!!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik LensaLet It Flow and Enjoy With It!!
Kalo hidup banyak makna, Aku punya sejuta cerita. Itulah yang ada dipikiran gue saat ini. Kadang kalo gue lagi di jalan, gue sering ngomong-ngomong sendiri dan mikir gak jelas entah kemana. Gue sering di tertawain orang kalo gue cerita tentang cita-cita gue. Malah kadang ada yang mencaci gue. Tapi semua itu gak menghalangi apa yang gue impikan. Pernah gue dibilang, cita-cita gue konyol, gak masuk akal, dan terlalu tinggi. Tapi, pandangan gue beda tentang cita-cita. Orang boleh bilang apapun tentang gue tapi orang gak akan pernah bias ngatur jalan hidup gue. Justru menurut gue tuh cita-cita harus tinggi karena hal itu gue selalu jadi acuan gue untuk terus berusaha. Gue gak mau setengah-setengah ngejalani hidup gue. Tapi gue hanya manusia yang kadang khilaf dan wajar kalau setiap manusia pasti pernah mengalami masalah.
Kali ini gue lagi bingung sama hidup gue sendiri. Sewaktu temen gue lagi ngobrol ketawa ketiwi, seneng-seneng, dan asyik bercanda. Gue Cuma duduk di kelas dan nulis diary. Cuma itu yang gue lakuin. Kadang kalo lagi mood ya gabung sama mereka, kadang baca bukunya bang Mutun (Raditya Dika), dan lebih sering jajan di kantin. Tapi entah kenapa pikiran gue jarang banget bias enjoy dan lepas. Ada masalah dikit, pikiran gak karuan entah kemana. Sampe sahabat gue hapal kebiasaan buruk gue. Kalo lagi ada masalah dikit pasti mikir hal-hal yang gak penting. Bagi gue wajar. Tapi bagi mereka enggak. Gak tau kenapa jalan pikiran gue kayak gini. Gue sering curhat ke temen-temen gue atau kakak bahkan guru gue. Mungkin mereka terganggu dengan cerita-cerita gue mulai dari a-z. Banyak juga temen gue yang bilang “Kamu itu beruntung, kamu mendapatkan sesuatu lebih dari orang-orang yang kamu sayang”. Gue terimakasih banget sama mereka yang udah ngebantuin gue, tapi gue juga minta maaf kalo sering ganggu waktu kalian. Well, Allah selalu membalas kebaikan kalian kawan!
Akhir-akhir ini gue lagi mikirin masalah sampe perut gue mules-mules banget dan sampe bolak balik ke dokter dan harus minum obat tapi gak sembuh-sembuh. Dan kata sahabat gue, “Kumat kan sakitnya. Kamu itu gak sakit. Tapi kamu itu kepikiran masalah terus.”. dan waktu gue curhat ke guru gue, beliau bilang “Gak usah dipikirin kalo kamu gak bertindak. Santai saja. Allah pasti membantu.”. Dari situ gue mulai mikir, ‘kenapa hidup gue kayak gini? Apa tujuan hidup gue? Siapa gue yang sebenarnya? Dan apa yang bisa gue lakuin buat orang lain? Buat apa gue hidup?’. Sampai sekarang itulah pertanyaan besar dalam hidup gue.
Tiap hari gue selalu baca buku motivasi, buka facebooknya Mario teguh, buka blog dan nulis cerita entah apapun itu. Hal itu gue lakuin demi memotivasi diri gue sendiri biar gue tetep semangat dan gak down. Tadi siang baru aja gue tamat baca bukunya Raditya Dika (salah satu penulis favorit gue) yang judulnya Radikus Makan Kakus. Bukunya emang ngocok perut dan bikin ngakak sampe gigi garing, tapi di lain sisi gue menangkap satu hal dari Raditya Dika. Orang segokil, sekonyol, dan sebego itu (maaf, emang kenyataan.haha) sempet mikirin tentang hidup dia. Dia udah buat orangtua dan keluarganya bangga sama dia. Sampe dia rela ngelakuin hal yang sama sekali jarang ada di pikiran dia. Dari apa yang Raditya Dika lakuin, gue jadi mikir “Apa selama ini gue udah bertanggung jawab sama hidup gue? Apa gue sudah bertanggung jawab sama keluarga gue?”.
Gue pengen tersadar dari semua masalah gue. Gue harus bangkit dari semua ini tapi gue butuh orang lain. Selama ini gue menutup diri dengan orang lain, dan perlahan gue udah bisa nglupain itu. Gue yakin gue bisa jadi yang lebih baik. Dan disaat kondisi gue kayak gini rasanya hampir gak mungkin gue masih dipercaya untuk jadi yang terbaik. Gue harap itu bisa jadi acuan gue untuk jadi lebih baik dan jadi pengalaman berharga gue, meskipun banyak orang yang ngetawain gue tentang cita-cita gue. Dan perlahan semuanya pun terbukti siapa yang menjadi pemenang!. Tersenyumlah untuk mimpimu. Lakukan dengan cinta. Gue yakin Allah gak tidur. (farah)
POTRET 4: Bertarung Dengan Ejekan!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik Lensa“Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Kata Andrea Hirata. “Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka.”
Waktu selalu berpihak pada siapapun, waktu tak akan pernah berhenti berputar. Tapi masa depan tak akan berpihak pada mereka yang melalaikan waktu. Seperti waktu yang tak pernah berhenti berputar, hidup ini juga selalu berputar melewati cerita dan mimpi-mimpi baru. Cita-cita bukan sekedar cerita, tapi lebih dari itu cita-cita membutuhkan usaha yang ekstra untuk mewujudkannya dan mendapatkan yang terbaik.
Banyak orang yang ngetawain gue tentang cita-cita dan mimpi gue. Mereka seolah berpikir bahwa gak mungkin gue bisa dapetin dan lakuin cita-cita itu. Banyak juga temen gue yang bilang kalo gue tuh aneh dan gak pernah ngerti jalan pikiran gue (mungkin hanya orang-orang beriman yang mengerti.he he). Tapi dibalik semua itu selalu ada dukungan bagi gue. Di dunia ini selalu ada dua hal yang bertolak belakang dan gak bisa kita pungkiri. Ada pujian ada juga ejekan.
Gue punya banyak cita-cita! Bahkan lebih dari 100 cita-cita! Bukankah semua yang kita inginkan itu merupakan cita-cita?. Nah, kalo iya berarti apa yang selama ini gue harapkan dan mau adalah cita-cita gue?. Jadi, gak salah donk kalo setiap hari gue berusaha mewujudkan itu dan setiap hari gue nenteng-nenteng kertas daftar cita-cita gue, mind map, dan semua tentang hidup gue. Terkadang kalo lagi males nglakuin sesuatu, entah itu dikelas, dirumah, atau dimanapun, gue selalu baca berulang-ulang tentang cita-cita gue, nulis diary, dan lebih sering gambar mind map atau biasa disebut peta pikiran. Hal itu menjadi tugas wajib gue setiap hari. Setiap orang pasti punya kebiasaan masing-masing, tinggal bagaimana mereka menciptakan kebiasaan menjadi sebuah kekuatan untuk meraih mimpi.
Gue gak terlalu ambil pusing dengan ejekan temen-temen gue. Yang gue pikirin sekarang adalah gimana gue menata hidup gue dan apa yang gue lakukan demi masa depan gue yang lebih baik. Gue juga punya masa lalu. Tapi masa lalu gue udah tersimpan erat dalam sebuah kata “kenangan”. Masa lalu gue terlalu kelam untuk diceritakan. Masa lalu adalah sebuah sandiwara dunia yang belum terencanakan sedangkan masa depan adalah mimpi yang harus terselesaikan.
Hidup ini indah kawan kalau kita mengerti maknanya. Ikhlaskanlah masa lalumu, berdoalah untuk masa depanmu yang cemerlang, dan berdoalah semoga tugasmu sekarang terselesaikan. Bagi gue tak ada yang sempurna di dunia ini. Dunia hanyalah sebuah tempat untuk beristirahat dan selanjutnya menuju akhirat. Cita-cita, mimpi, dan harapan adalah pengindah dunia. Kelak suatu hari nanti, kunantikan wajah-wajah bahagiamu memeluk kesuksesan menerohkan tinta emas bagi dunia.
“Bagaimana mungkin kita hidup tanpa menjual diri. Bukan menjual diri dalam konotasi negatif. Tapi, semua bakat dan potensi yang ada pada diri harus kita manfaatkan untuk kelangsungan hidup kita hari ini dan esok.”
Manusia diciptakan sebagai makhluk paling mulia dan terbaik di antara makhluk ciptaan Tuhan lainnya karena dibekali berbagai macam potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Namun terkadang, kita tidak sadar bahkan tidak tahu sama sekali apa potensi yang ada pada diri kita sehingga terkadang kita hidup dengan kondisi seadanya atau apa adanya, mudah menyerah dan tidak mempunyai impian besar. Kita menjalani rutinitas hidup apa adanya tanpa ada kekuatan untuk menjadikan hidup kita lebih baik. Setiap orang pasti memiliki bakat dan potensi diri yang berbeda-beda.Tergantung dimana seseorang tersebut minat dan nyaman di dunianya. Menemukan potensi diri dan mengembangkannya cukuplah mudah. Kuncinya hanya satu yaitu FOKUS. Fokus pada intinya adalah mengoptimalkan potensi kita dalam bidang yang kita senangi lalu mengapresiasikannya dalam sebuah wadah yaitu KARYA.
Bagaimanapun kondisi kita sekarang, apapun keadaannya, selama masih ada mimpi yang tinggi dan semangat yang membara maka akan ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan apa yang diinginkan.
Mengembangkan potensi diri atau bakat sama halnya dengan merancang masa depan yang lebih baik. Bukan berarti kita pesimis akan masa depan kita nanti, tapi dengan mengembangkan potensi atau bakat kita lebih dini akan memberi kita wawasan yang luas serta pengalaman yang banyak. Maka dari itu ayo gali potensi dirimu lalu kembangkan dan lihat masa depan lebih baik yang akan membawamu ke gerbang kesuksesan.
Menengok ke belakang tak selalu identik dengan kesedihan dan sesuatu yang jelek. Masa lalu bisa saja dijadikan bahan renungan dan koreksi diri. Bahwa sebenarnya masa depan masih terbuka lebar bagi siapa yang mau berusaha memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan masa lalu demi kemajuan masa depannya.
Tak banyak orang yang mengira bahwa apa yang dilakukannya dahulu di masa lalu sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan di masa depan. Sebenarnya bukan hal sulit untuk bangkit dari kegagalan atau bahkan dari luka masa lalu. Hanya butuh kebesaran jiwa, kesabaran, introspeksi diri, dan doa, serta keikhlasan. Masa lalu yang kelam, pengalaman yang menyakitkan mungkin masih terus teringat hingga menyisakan dendam di hati kita. Namun sebenarnya hal itulah yang menghambat kemajuan masa depan kita nantinya. Bagaimanapun kondisi masa lalu kita, itulah yang telah terjadi dan tak mungkin kembali. Percuma jika kita mengungkit masa lalu dan berandai andai seperti “ah, seandainya saja dulu aku sekolah disini. Atau ah, seandainya saja aku tak melakukan kesalahan itu’’, tak ada gunanya, lagipula waktu tak akan pernah mungkin berjalan kebelakang. Sudahlah lupakan luka masa lalumu. Biarkan angin membawamu berlari mengejar mimpi dan kesuksesan.
Ngomong seperti itu sangatlah mudah, tapi terkadang penerapannya sulit. Menurut saya tak sesulit apa yang dibayangkan. Cobalah percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu melakukan apa yang seharusnya kita jalani. Bahwa yang terjadi sekarang bisa jadi menurut kita tak pantas tapi menurut kacamata Tuhan itulah yang terbaik untuk kita. Sebesar apapun usaha kita, tetaplah Tuhan yang memiliki andil besar dalam menentukan hidup kita. Kita memang tak pernah tahu bagaimana masa depan kita nanti, tapi setidaknya Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk merencanakan masa depan yang terbaik. Dan peran Tuhan hanyalah menyetujui atau tidak atas apa yang kita rencanakan. Intinya adalah, sekecil apapun rencana atau tujuan hidup kita Tulislah! Lakukanlah! dan berdoalah!. Kelak ijinkanlah Tuhan untuk memberi jalan yang terbaik untuk kita. Seindah-indah tujuan hidup adalah menjadi pribadi yang berguna! –Mario Teguh-
Sesekali tengoklah masa lalumu, biarkan hal itu menjadi pengindah masa depanmu, menjadi kenangan-kenangan yang tak terlupakan. Masa lalumu adalah saksi bisu kesuksesanmu. Tanpa masa lalu hidupmu akan hampa. Pengindah kebahagiaan adalah kegagalan. Karena semua berawal dari nol. Masa lalu bukanlah penentu masa depan karena kemarin adalah kenangan, hari ini adalah tantangan, dan esok adalah harapan.
POTRET 1: Kehidupan di Mata Remaja
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik LensaKehidupan semakin menampakkan wujud aslinya. Kini, kejujuran tak ubahnya hanya sebuah sandiwara belaka. Alkohol, seks bebas, narkoba, dan semua hal yang berbau ‘kenakalan dan modernisasi’ seakan-akan di Tuhankan. Manusia seakan melupakan kodratnya sebagai makhluk yang beragama. Terlalu munafik jika kita tak mau mengakui bahwa hal itu kini benar-benar terjadi dan perlahan menghancurkan generasi muda. Remaja. Bagaimana tidak, pengaruh itu secepat angin masuk menjadi sebuah trend baru di kalangan remaja tanpa ada perlawanan yang berarti. Sudahlah jangan saling menyalahkan siapapun atas hal itu. Kini, bukan saatnya berdebat mencari siapa yang benar dan salah, bangunlah! Lihat duniamu sekarang! Lekaslah memperbaikinya. Biarkanlah saja nanti waktu yang akan membuktikan dengan segala caranya tentang siapa yang salah dan benar. Bukankah kita juga diajarkan untuk selalu mawas diri dan berlaku baik terhadap siapapun sekalipun dia melakukan kesalahan. Kalau kata pak Mario Teguh “Tetaplah berlaku baik. Lalu perhatikan apa yang terjadi.’’
Selama ini mungkin tak banyak yang ingin tahu makna hidup yang hakiki dan bahagia serta bagaimana hidup harus dijalani. Bukankah selama ini banyak orang yang mengatakan “Jalani saja hidupmu. Jangan dibikin repot. Biar saja mengalir seperti air’’. Tapi bukankah kita tahu bahwa air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Lalu maukah kita menjadi orang yang selalu mengalir ke tempat yang rendah dan tak ada perubahan.
Entah mengapa, seiring kemajuan jaman banyak remaja yang melupakan budaya seakan tak penting. Lupa siapa yang membesarkannya. Tak punya tata karma dan secara ekstrem bisa dibilang lupa akan jati dirinya sendiri. Bagiku, hidup lebih dari sekedar mimpi dan cita-cita. Hidup adalah pengabdian yang tidak meminta harta atau jabatan yang masih mengingat sejarah hidupnya dan terlebih lingkungannya untuk di jadikan acuan menjadi insan yang lebih baik. Modernisasi bukan sebuah jalan utama dalam mencari kebahagiaan tapi kesadaran diri sendiri yang harus ditanamkan dalam membentuk orang yang memiliki jiwa yang besar sehingga mampu membawa dirinya ke gerbang kesuksesan.
Otak manusia seakan terkikis oleh kemajuan teknologi dan modernisasi. Termasuk remaja. Lihat saja disetiap tempat tak ada satupun remaja yang tak membawa HP ‘HandPhone’. Media komunikasi elektronik tersebut telah membawa kita lebih maju dalam hal komunikasi. Namun manfaatnya dirasa kurang dan lebih banyak mendatangkan hal negatif. Justru dari situlah sumber kerusakan moral dan harga diri remaja. Bayangkan saja, sebagian besar dari remaja termasuk saya pasti tak asing lagi dengan dunia maya, chatting, porno aksi, seks bebas, dan alkohol. Hal itu sangat mudah didapatkan melalui HP. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan membentengi diri agar tak terbawa oleh arus globalisasi. Dalam hal ini, peran orangtua sangatlah penting layaknya bunga yang tak bisa lepas dari tangkainya.
Kemajuan jaman ini harus kita lalui. Dengan era globalisasi semua terasa mudah didapatkan tapi jangan sampai kita buta akan hal itu. Berbagai efek baik positif negatif tak mampu dibendung datangnya. Oleh karena itu, walaupun orang lain telah mengarahkan kita, memberi nasehat, tetapi hati kita, pikiran kita yang berperan lebih besar terhadap perbuatan kita. Jadi, sebelum melakukan sesuatu berpikirlah terlebih dahulu. Mereka para orang tua kita telah sukses melewati masa remajanya tanpa goresan catatan hitam dan luka dihidupnya. Mampukah kita menorehkan catatan emas di masa remaja ini? Siapa yang akan bangga nantinya? Bukankah kita sendiri?. Tulis mimpimu. Lakukanlah. Dunia akan jadi milikmu.(farah)
akan ada sebuah waktu dimana kita akan berdiri penuh rasa bangga. The winner stands alone
Menjadi sangat tertantang ketika melihat banyak novel karya teman-temanku terpampang di toko-toko buku, atau merasa tergerak ketika banyak karya tulis dari teman-temanku juga berhasil menjadi jawara. Yah, semakin hari seperti mendapat sebuah tekanan batin kenapa aku tak beranjak pergi dari rasa suntuk dan segera take action. Menjadi sebuah hal penting bagiku ketika suatu saat aku bisa membanggakan Ayah, Bunda, dan mereka semua yang kukenal dengan sebuah ‘masterpiece’ yang bisa kupersembahkan.
Waktu demi waktu berlalu. 1 tahun pun terasa amat singkat yang dipenuhi dengan rutinitas ‘pemimpi’ untuk menjadi seorang penulis. Alunan musik mellow, secangkir kopi, udara sejuk, suasana café yang klasik, dan menjadi penikmat kesunyian adalah sebuah fragmen yang bisa dibilang ‘aku banget’. Ketika menikmati secangkir kopi di salah satu café klasik di Kotaku, Kediri. Muncul sebuah pertanyaan yang seringkali membayangiku sebelum tidur, pertanyaan lama yang kerapkali menghabiskan waktu lamunanku. “Udah menciptakan sejarah apa tahun ini? Gimana dengan mimpimu?”. Orang lain boleh bilang itu hanya pertanyaan bodoh dan tak penting. Tapi bagiku, itu menjadi sangat menantang untuk membuktikan seberapa besar mimpi dan cita-citaku.
Beberapa pertanyaan lain juga kerapkali dilontakan oleh teman seperti, “Gimana udah kirim novel kemana? Kapan mulai terbit?”. Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menguras tenaga dan pikiranku setiap waktu. Hmh, tampaknya harus segera take action untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tapi sepertinya bukan hanya take action yang dibutuhkan, juga diperlukan konsisten melangkah satu persatu melewati tujuan-tujuan kecil untuk meraih tujuan tertinggi. Tak mudah memang, tapi apa salahnya belajar ‘mendisiplinkan diri’ demi sebuah mimpi.
Sebagai seorang pelajar SMA yang beberapa bulan lagi akan menjadi mahasiswa, akan sangat penting dan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri ketika masa muda ini dipenuhi dengan ‘masterpiece’ (karya agung). Itu adalah mimpi, mimpi untuk menciptakan masa muda yang indah dan bisa diabadikan menjadi sebuah masterpiece. Tahun ini, tak ada harapan yang lebih indah selain mewujudkan setiap mimpi. Melakukan apa yang bisa aku lakukan dan menjadi yang terbaik. Seiring berakhirnya tulisan ini, semoga selalu terbuka jalan terbaik di setiap waktu dan kesempatan yang kita dapatkan dan semoga Tuhan senantiasa meridhoi setiap langkah yang kita pilih. Amiiin.
This is my choise, and maybe I think this is my dream. My dream for good future. Althought I don’t know about future, about my way, about everything in future. But at least I do the right things now.
Sebuah Cerita Tanpa Koma!
Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi, tanpa peduli siapa pelakunya dan apa yang dilakukannya. Waktu memandang semuanya sama. Jika tidak bisa menjadi yang terbaik hari ini, jangan harap akan menghasilkan yang terbaik hari esok. 24 jam seakan berlalu tanpa terasa bagi kami. Setiap detik waktu yang berjalan menjadi sebuah cerita tanpa koma. Puluhan ide dan cerita memberontak memenuhi otak menuntut untuk segera dituangkan dalam berita.
Tak ada batasan waktu bagi kami, tak ada koma dalam dunia kami. Dunia kami menuntut untuk selalu menghasilkan yang terbaik dan berkualitas. Meskipun sejenak melupakan masa indah hidup kami, semua itu demi mimpi kami untuk selalu menjadi yang terbaik. Kami bercerita tanpa koma, berlari mengejar realitas. Waktu dan pena setia menemani hidup kami. Karena dengan itu kami kuat.
Jika orang lain mati meninggalkan bangkai, kami tak akan mati. Kami menulis lembar demi lembar yang menjadi saksi dan kekuatan untuk tetap dikenang hingga kini. Menjadi saksi hidup kami dan mereka. Semuanya terekam indah dalam goresan pena. Kata-kata yang menjadi ekspresi indrawi, penekanan yang mewakili emosi, dan semua cerita yang menggambarkan kebahagiaan. Dengan harapan kami akan selalu bermanfaat bagi sesama dan tetap memberikan kontribusi positif bagi perkembangan media massa.
Yeah, waktu itu tak sengaja mataku memandang setumpuk buku di sudut ruang. Ruang bercat hijau dengan lukisan pohon di dindingnya. Di beberapa sudut tertempel kata-kata motivasi dan beberapa hasil jepretan si kamera. Di lantainya juga berserakan draft dan coretan tentang masa depan. Meski tak terlihat rapi, ya semoga kelak ruangan ini bisa menjadi saksi bagaimana sebuah karya terlahir. Apapun yang tergambar dari ruangan ini, tetap saja buku di sudut meja itu menarik perhatianku untuk mengamatinya. Sejurus kemudian, aku berjalan penuh tanda tanya mengamati tumpukan buku itu. Buku-buku berdebu itu terlihat usang dan kurang terawat, mungkin ada unsur pembiaran karena si penulis buku itu malu bahkan takut untuk membaca kembali kenangan masa itu. Dan si penulis itu adalah saya sendiri.
Meniup debu dari buku yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik untuk saya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Bercerita tentang setiap proses pencapaian mimpi. Saya teringat ketika pertama kali menulis pada lembaran buku itu, sebagai seorang anak yang menuangkan ide dan pikirannya pada sebuah buku dengan perasaan bangga dan bahagia. Waktu itu saya berpikir bahwa setiap apa yang saya tuliskan bisa menjadi kenangan dan saksi perjalanan hidup yang tak terbantahkan, yang tentunya saya tulis sendiri.
Tanpa disadari sayapun mulai tertawa geli membaca tulisan-tulisan itu, padahal menertawakannya sama artinya menertawakan masa lalu yang terekam dalam buku itu. Yah memang benar-benar ingin tertawa dan
ketika membaca tulisan anak SMP -waktu itu-. Terlihat sekali perbedaan tulisan-tulisan saya waktu dulu ketika masih SMP dengan sekarang, ya karena dulu lagi trend tulisan alay jadi diary ini juga memakai gaya bahasa alay. Hehe. Jika dikaji lebih mendalam sebenarnya jauh sekali dari teknik penulisan yang baik dan benar. Walaupun sekarang saya masih aktif menulis diary dan tulisan lainnya, saya masih merasa tulisan ini jauh dari kata sempurna. Selalu ada perasaan yang berkecamuk untuk mendoktrin bahwa tulisan saya jelek.
Namun dari semua itu, terlepas dari berbakat atau tidak, saya tetap merasa bangga dengan tulisan-tulisan itu yang menjadi bagian dari perjalan hidup saya sebagai seorang penulis. Setiap momen yang saya tulis menjadi sebuah cerita sekan mampu memutar kembali imajinasi saya ke masa lalu yang penuh kenangan. Memang terkadang momen-momen itu memenuhi ruang otak dan menjadi penyuntik semangat untuk tetap berkarya dalam keadaan apapun. Setiap proses yang dilalui demi sebuah impian menjadi seorang penulis terus mewarnai setiap lembar diary menjadi sebuah rangkaian cerita.
Waktu itu ketika masih duduk di bangku SMP memang sudah terbayang bagaimana rasanya menjadi seorang penulis. Tanpa pikir panjang waktu itu, saya deskripsikan bahwa seorang penulis hanyalah seseorang yang bisa mengekspresikan berbagai hal dan suasana tanpa harus berpikir keras dan mengorbankan waktu, juga tidak menguras tenaga, hanya menuangkan setiap rasa dan ide yang berkecamuk dalam otak dengan tambahan sedikit bumbu dan meramunya menjadi sebuah cerita.
Bagi saya menulis adalah sebuah wahana ekspresi tanpa batas. Sebuah cara pelampiasan yang saya pikir tidak akan merugikan siapapun. Hanya saya dan tulisan itu yang tahu. Bahkan mungkin jika tulisan-tulisan itu dibaca orang lain akan menjadi sebuah cara unik untuk berbagi dan share tentang apapun. Menulis adalah sebentuk ekspresi indrawi untuk meluapkan segala emosi, keluh kesah, canda tawa, dan bahagia.
Yah, pikiran yang dulu sesimple itu kini mampu menuliskan berbagai cerita. Cerita yang terkadang jauh dari realita. Seiring berjalannya waktu, sayapun mulai ‘serius dan bertanggung jawab’ atas pemikiran masa lalu itu. Membuka kembali diary itu membuat saya sadar bahwa ada sebongkah impian yang harus ‘dipertanggungjawabkan’ sekarang dan di masa depan, mimpi untuk menjadi seorang yang dibanggakan dan memiliki sesuatu untuk tetap dikenang hingga nanti. Yah, semacam pembuktian diri atas sebentuk cita-cita yang tertanam sejak kecil.
Terasa sekali perbedaan dalam diri saya ketika menulis diary di masa lalu dibanding tulisan-tulisan saya sekarang ini. Diary masa lalu saya mencerminkan bahwa dulu ketika menulis hanya sedikit sekali pesan yang tersampaikan. Hanya sebuah tulisan yang mewakili segala emosi dari sebuah momen yang benar-benar terjadi, tertuang jujur dalam tulisan tersebut. Hingga kini tulisan-tulisan masa lalu itu menjadi semacam kekuatan dan kebanggaan bagi diri sendiri bahwa saya bisa dan mampu merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang indah.
Setelah sekian lama lelah berlari melewati setiap proses menggapai impian untuk menjadi seorang penulis. Setumpuk diary di sudut ruangan itu mengingatkan saya untuk berhenti menulis dalam konteks yang lain. 2 tahun terakhir ini saya lebih sering menghabiskan waktu menulis di laptop. Lebih simple dan mengurangi kram di tangan. Tapi kekuatan menggoreskan pena di setiap lembar buku tetap memanggil nurani saya untuk kembali menuliskan setiap momen pada diary bukan pada alat digital. Goresan demi goresan yang mewarnai setiap cerita memiliki kesan tersendiri, karena dari goresan itu saya belajar dari kesalahan untuk melewati proses selanjutnya. Lebih tepat dikatakan bahwa saya rindu menulis dengan segala emosi yang mewakili setiap momen. Dimana saya sangat leluasa dan bebas menuliskan setiap ekspresi tanpa batas dari ladang harapan yang tak pernah mati. Hati.
“Tuhan pasti telah memperhitungkan amal dan dosa yang kita perbuat. Kemanakah lagi kita kan sembunyi, hanya kepadaNya kita kembali. Anugrah dan bencana adalah kehendakNya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar. Adalah Dia di atas segalanya.”
Awan berarak mengelilingi langit. Menghapus senja menyambut bintang. Tetes demi tetes hujan turun di antara kilatan petir dan gemuruh guntur. Terbersit sebuah kenangan dalam balutan luka. Dan seluruh alam-pun sempat bersaksi bagai sebuah memori penting. Antara Kalah dan Menyerah!.
Waktu berlalu tanpa peduli apa yang terjadi. Detik, menit, jam, sehari, sebulan, tahun… dan seakan semuanya sia hanya berbalut luka. Berapapun lamanya Engkau bertahan dalam duka, waktu tak akan pernah memperdulikanmu. Bahkan hanya untuk sedetik saja, sekedar membawamu ke masa itu. Masa dimana hatimu masih terukir bahagia. Dimana pikiranmu tak pernah terjamah sesal, kecewa, dan apapun itu yang mereka katakan tentang ‘kesedihan’.
“Tuhan, apapun jalan yang aku pilih. Sekalipun itu adalah pilihan terburuk. Aku mohon Engkau tetap menunjukkan kebenaran suatu saat nanti”.
Saat ini adalah fase tersulit yang harus dilewati. Fase dimana seluruh kekuatan lahir dan batin harus dikorbankan. Entah berapa lama waktu yang sudah terbuang untuk berusaha kembali menatap masa depan yang dulu begitu gemilang. Menjadi seorang yang membanggakan!. ‘Lama tak terlihat bayangmu dalam hidupku’.
Apapun itu, hendaknya kita tetap berpikir positif dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Menjadi pribadi-pribadi yang dirindukan kebaikannya. Menjadi pribadi yang benar-benar diperhitungkan di masa depan. Yang lalu hanyalah sebuah kerikil kecil yang terkadang tak pantas untuk di tangisi. Masih ada masa depan yang lebih baik dengan pribadi-pribadi yang lebih powerful dan mempercayakan tugas besar kepada kita. Dalam hidup, setiap akhir cerita adalah sebuah awal baru menuju kebahagiaan! Bahagia itu pilihan!
“Ikhlas bukan berarti pasif dan pasrah pada segala hal, tapi bentuk ke
tegaran hati yang dibentuk oleh kejujuran pada diri sendiri dan kenyataan”
POTRET 6: Segalanya Ada Jalan Keluar!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik Lensa“Tak ada penyakit yang tak ada obatnya.” Begitulah kutipan bunyi dari sebuah hadist yang pernah saya baca. Pada intinya semua penyakit pasti ada obatnya dan pasti bisa sembuh jika kita mau berusaha untuk sembuh dan berobat. Jaman sekarang ini telah banyak teknologi canggih dan dokter yang handal untuk mampu membantu menyembuhkan suatu penyakit namun sekarang ini penyakit makin beragam jenisnya dan mudah menyerang siapa saja.
Gue sendiri sekarang ini lagi sakit dan menurut dokter hal ini cukup parah dan harus diobati dengan rutin. Awalnya kaget memang kenapa gue bisa mengidap penyakit yang selama ini masih banyak penderitanya dan sulit dicegah. Gue gak akan sebutin apa sakit gue tapi ini nih cirri-cirinya. Disebabkan oleh bakteri dan merupakan salah satu penyakit penyebab kematian terbesar di dunia. Gue berharap hidup gue masih bisa terselamatkan dan gue bisa sembuh dari sakit ini.
Udah 2 tahun lamanya gue mengidap sakit ini. Udah 2 tahun pula gue gak terapi dan gak minum obat sama sekali. Gue juga gak tahu gimana perkembangan bakteri tersebut di dalam organ tubuh gue. Yang jelas, gue baru sadar tentang apa yang harus gue lakuin akhir-akhir ini. Gue selalu cuek dan diem kalo orang lain ngomongin soal penyakit gue ini. Mereka tahu gue sakit ini tapi gue pura-pura gak tahu sakit gue. Bukannya gue angkuh atau sombong tapi gue lebih gak mau mikirin penyakit gue. Paling juga bisa sembuh sendiri. Piker gue waktu itu.
Setelah 2 tahun itu badan gue sering sakit dan kadang muntah-muntah. Gue tetep cuek aja karena gue tetep kukuh gak mau mikirin penyakit ini. Besoknya setelah gue muntah-muntah, gue cerita ke guru gue. Gak usah gue sebutin yah siapa nama aslinya. Biasa gue panggil Bunda. Waktu itu pas jam istirahat. Gue ke ruangannya beliau. Gue cerita mendetail dan wawh kena marah besar lah gue. “Mbak, kamu itu sakit parah. Kenapa baru cerita sekarang? Terus selama ini gak minum obat? Obatnya dibuang? Dengerin Bunda ya mbak, kamu itu terlalu banyak mikir tapi gak di imbangi dengan makan yang teratur. Yaudah pokoknya nanti sore Bunda anterin ke rumah sakit.”. dan itulah sepenggal kemarahan yang menyadarkan gue. Hmh, gue Cuma diem, merenung, nangis, pengen teriak, dan semua emosi dalam diri gue bercampur jadi satu. Ngerasa bersalah sih iya, kalo ditanya orang ‘Kamu nyesel gak?’ gue jawab NYESEL BANGET. 2 tahun waktu yang lebih dari cukup untuk menyembuhkan penykit ini. Gue juga sempet periksa sampai di labolatorium juga, obat juga udah ada. Kenapa gue buang sia-sia kesempatan itu. Kata temen gue “Emang ini kan yang kamu pengen dari dulu. Gak pengen bisa sembuh. Cuek. Gak peduli siapa-siapa. Sekarang baru sadar kalo sakitnya udah parah dan baru pengen sembuh sekarang? Inget, kamu hidup buat siapa dan untuk apa? Masa lalu hanyalah kenangan yang tak harus selalu ditangisi. Manusia punya jalannya masing-masing.”. Seketika itu gue bertekad untuk sembuh dan melanjutkan hidup dan mimpi gue yang sempat tertunda.
1 minggu berlalu sejak gue pergi ke pengobatan tradisional. Gue mulai rutin minum obat. Makan teratur tanpa sambal dan minum tanpa es. Dulu, gue gak mau makan kalau gak ada sambalnya, gak mau minum kalau gak pakai soda. Kadang makan juga cuma sehari sekali, tenaga gue diforsir habis-habisan demi ngerjain hal-hal yang gue suka sampai larut malam. Aah, insomnia dating lagi. Sejenak gue harus meninggalkan kebiasaan buruk gue itu dan mencoba pola hidup sehat serta minum obat secara teratur.
Sebenarnya banyak orang yang peduli sama gue, bahkan kalo gue butuh apapun sahabat gue selalu ada disamping gue. Nasehat mereka terlalu berarti untuk di buang dan sayangnya gue baru sadar sekarang. Penyesalan selalu datang di belakang. Kita bukan malaikat yang tak pernah melakukan dosa, kita bukan benda mati yang tak pernah merasa, kita manusia yang dikaruniai jiwa dan raga untuk selalu bersyukur dan melakukan apa yang diperintahkanNya. Manusia hanyalah manusia yang terkadang lupa diri dan penuh khilaf. Setidaknya ketika kita sedang diliputi masalah, ada orang lain yang sanggup mengingatkan kita. Dan ketika itu pula Tuhan menguatkan hati kita dan mengingatkan untuk selalu bersyukur atas apa yang ada. (farah)
Potret 5: Let It Flow and Enjoy With It!!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik LensaLet It Flow and Enjoy With It!!
Kalo hidup banyak makna, Aku punya sejuta cerita. Itulah yang ada dipikiran gue saat ini. Kadang kalo gue lagi di jalan, gue sering ngomong-ngomong sendiri dan mikir gak jelas entah kemana. Gue sering di tertawain orang kalo gue cerita tentang cita-cita gue. Malah kadang ada yang mencaci gue. Tapi semua itu gak menghalangi apa yang gue impikan. Pernah gue dibilang, cita-cita gue konyol, gak masuk akal, dan terlalu tinggi. Tapi, pandangan gue beda tentang cita-cita. Orang boleh bilang apapun tentang gue tapi orang gak akan pernah bias ngatur jalan hidup gue. Justru menurut gue tuh cita-cita harus tinggi karena hal itu gue selalu jadi acuan gue untuk terus berusaha. Gue gak mau setengah-setengah ngejalani hidup gue. Tapi gue hanya manusia yang kadang khilaf dan wajar kalau setiap manusia pasti pernah mengalami masalah.
Kali ini gue lagi bingung sama hidup gue sendiri. Sewaktu temen gue lagi ngobrol ketawa ketiwi, seneng-seneng, dan asyik bercanda. Gue Cuma duduk di kelas dan nulis diary. Cuma itu yang gue lakuin. Kadang kalo lagi mood ya gabung sama mereka, kadang baca bukunya bang Mutun (Raditya Dika), dan lebih sering jajan di kantin. Tapi entah kenapa pikiran gue jarang banget bias enjoy dan lepas. Ada masalah dikit, pikiran gak karuan entah kemana. Sampe sahabat gue hapal kebiasaan buruk gue. Kalo lagi ada masalah dikit pasti mikir hal-hal yang gak penting. Bagi gue wajar. Tapi bagi mereka enggak. Gak tau kenapa jalan pikiran gue kayak gini. Gue sering curhat ke temen-temen gue atau kakak bahkan guru gue. Mungkin mereka terganggu dengan cerita-cerita gue mulai dari a-z. Banyak juga temen gue yang bilang “Kamu itu beruntung, kamu mendapatkan sesuatu lebih dari orang-orang yang kamu sayang”. Gue terimakasih banget sama mereka yang udah ngebantuin gue, tapi gue juga minta maaf kalo sering ganggu waktu kalian. Well, Allah selalu membalas kebaikan kalian kawan!
Akhir-akhir ini gue lagi mikirin masalah sampe perut gue mules-mules banget dan sampe bolak balik ke dokter dan harus minum obat tapi gak sembuh-sembuh. Dan kata sahabat gue, “Kumat kan sakitnya. Kamu itu gak sakit. Tapi kamu itu kepikiran masalah terus.”. dan waktu gue curhat ke guru gue, beliau bilang “Gak usah dipikirin kalo kamu gak bertindak. Santai saja. Allah pasti membantu.”. Dari situ gue mulai mikir, ‘kenapa hidup gue kayak gini? Apa tujuan hidup gue? Siapa gue yang sebenarnya? Dan apa yang bisa gue lakuin buat orang lain? Buat apa gue hidup?’. Sampai sekarang itulah pertanyaan besar dalam hidup gue.
Tiap hari gue selalu baca buku motivasi, buka facebooknya Mario teguh, buka blog dan nulis cerita entah apapun itu. Hal itu gue lakuin demi memotivasi diri gue sendiri biar gue tetep semangat dan gak down. Tadi siang baru aja gue tamat baca bukunya Raditya Dika (salah satu penulis favorit gue) yang judulnya Radikus Makan Kakus. Bukunya emang ngocok perut dan bikin ngakak sampe gigi garing, tapi di lain sisi gue menangkap satu hal dari Raditya Dika. Orang segokil, sekonyol, dan sebego itu (maaf, emang kenyataan.haha) sempet mikirin tentang hidup dia. Dia udah buat orangtua dan keluarganya bangga sama dia. Sampe dia rela ngelakuin hal yang sama sekali jarang ada di pikiran dia. Dari apa yang Raditya Dika lakuin, gue jadi mikir “Apa selama ini gue udah bertanggung jawab sama hidup gue? Apa gue sudah bertanggung jawab sama keluarga gue?”.
Gue pengen tersadar dari semua masalah gue. Gue harus bangkit dari semua ini tapi gue butuh orang lain. Selama ini gue menutup diri dengan orang lain, dan perlahan gue udah bisa nglupain itu. Gue yakin gue bisa jadi yang lebih baik. Dan disaat kondisi gue kayak gini rasanya hampir gak mungkin gue masih dipercaya untuk jadi yang terbaik. Gue harap itu bisa jadi acuan gue untuk jadi lebih baik dan jadi pengalaman berharga gue, meskipun banyak orang yang ngetawain gue tentang cita-cita gue. Dan perlahan semuanya pun terbukti siapa yang menjadi pemenang!. Tersenyumlah untuk mimpimu. Lakukan dengan cinta. Gue yakin Allah gak tidur. (farah)
POTRET 4: Bertarung Dengan Ejekan!
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik Lensa“Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Kata Andrea Hirata. “Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka.”
Waktu selalu berpihak pada siapapun, waktu tak akan pernah berhenti berputar. Tapi masa depan tak akan berpihak pada mereka yang melalaikan waktu. Seperti waktu yang tak pernah berhenti berputar, hidup ini juga selalu berputar melewati cerita dan mimpi-mimpi baru. Cita-cita bukan sekedar cerita, tapi lebih dari itu cita-cita membutuhkan usaha yang ekstra untuk mewujudkannya dan mendapatkan yang terbaik.
Banyak orang yang ngetawain gue tentang cita-cita dan mimpi gue. Mereka seolah berpikir bahwa gak mungkin gue bisa dapetin dan lakuin cita-cita itu. Banyak juga temen gue yang bilang kalo gue tuh aneh dan gak pernah ngerti jalan pikiran gue (mungkin hanya orang-orang beriman yang mengerti.he he). Tapi dibalik semua itu selalu ada dukungan bagi gue. Di dunia ini selalu ada dua hal yang bertolak belakang dan gak bisa kita pungkiri. Ada pujian ada juga ejekan.
Gue punya banyak cita-cita! Bahkan lebih dari 100 cita-cita! Bukankah semua yang kita inginkan itu merupakan cita-cita?. Nah, kalo iya berarti apa yang selama ini gue harapkan dan mau adalah cita-cita gue?. Jadi, gak salah donk kalo setiap hari gue berusaha mewujudkan itu dan setiap hari gue nenteng-nenteng kertas daftar cita-cita gue, mind map, dan semua tentang hidup gue. Terkadang kalo lagi males nglakuin sesuatu, entah itu dikelas, dirumah, atau dimanapun, gue selalu baca berulang-ulang tentang cita-cita gue, nulis diary, dan lebih sering gambar mind map atau biasa disebut peta pikiran. Hal itu menjadi tugas wajib gue setiap hari. Setiap orang pasti punya kebiasaan masing-masing, tinggal bagaimana mereka menciptakan kebiasaan menjadi sebuah kekuatan untuk meraih mimpi.
Gue gak terlalu ambil pusing dengan ejekan temen-temen gue. Yang gue pikirin sekarang adalah gimana gue menata hidup gue dan apa yang gue lakukan demi masa depan gue yang lebih baik. Gue juga punya masa lalu. Tapi masa lalu gue udah tersimpan erat dalam sebuah kata “kenangan”. Masa lalu gue terlalu kelam untuk diceritakan. Masa lalu adalah sebuah sandiwara dunia yang belum terencanakan sedangkan masa depan adalah mimpi yang harus terselesaikan.
Hidup ini indah kawan kalau kita mengerti maknanya. Ikhlaskanlah masa lalumu, berdoalah untuk masa depanmu yang cemerlang, dan berdoalah semoga tugasmu sekarang terselesaikan. Bagi gue tak ada yang sempurna di dunia ini. Dunia hanyalah sebuah tempat untuk beristirahat dan selanjutnya menuju akhirat. Cita-cita, mimpi, dan harapan adalah pengindah dunia. Kelak suatu hari nanti, kunantikan wajah-wajah bahagiamu memeluk kesuksesan menerohkan tinta emas bagi dunia.
“Bagaimana mungkin kita hidup tanpa menjual diri. Bukan menjual diri dalam konotasi negatif. Tapi, semua bakat dan potensi yang ada pada diri harus kita manfaatkan untuk kelangsungan hidup kita hari ini dan esok.”
Manusia diciptakan sebagai makhluk paling mulia dan terbaik di antara makhluk ciptaan Tuhan lainnya karena dibekali berbagai macam potensi yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Namun terkadang, kita tidak sadar bahkan tidak tahu sama sekali apa potensi yang ada pada diri kita sehingga terkadang kita hidup dengan kondisi seadanya atau apa adanya, mudah menyerah dan tidak mempunyai impian besar. Kita menjalani rutinitas hidup apa adanya tanpa ada kekuatan untuk menjadikan hidup kita lebih baik. Setiap orang pasti memiliki bakat dan potensi diri yang berbeda-beda.Tergantung dimana seseorang tersebut minat dan nyaman di dunianya. Menemukan potensi diri dan mengembangkannya cukuplah mudah. Kuncinya hanya satu yaitu FOKUS. Fokus pada intinya adalah mengoptimalkan potensi kita dalam bidang yang kita senangi lalu mengapresiasikannya dalam sebuah wadah yaitu KARYA.
Bagaimanapun kondisi kita sekarang, apapun keadaannya, selama masih ada mimpi yang tinggi dan semangat yang membara maka akan ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan apa yang diinginkan.
Mengembangkan potensi diri atau bakat sama halnya dengan merancang masa depan yang lebih baik. Bukan berarti kita pesimis akan masa depan kita nanti, tapi dengan mengembangkan potensi atau bakat kita lebih dini akan memberi kita wawasan yang luas serta pengalaman yang banyak. Maka dari itu ayo gali potensi dirimu lalu kembangkan dan lihat masa depan lebih baik yang akan membawamu ke gerbang kesuksesan.
Menengok ke belakang tak selalu identik dengan kesedihan dan sesuatu yang jelek. Masa lalu bisa saja dijadikan bahan renungan dan koreksi diri. Bahwa sebenarnya masa depan masih terbuka lebar bagi siapa yang mau berusaha memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan masa lalu demi kemajuan masa depannya.
Tak banyak orang yang mengira bahwa apa yang dilakukannya dahulu di masa lalu sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan di masa depan. Sebenarnya bukan hal sulit untuk bangkit dari kegagalan atau bahkan dari luka masa lalu. Hanya butuh kebesaran jiwa, kesabaran, introspeksi diri, dan doa, serta keikhlasan. Masa lalu yang kelam, pengalaman yang menyakitkan mungkin masih terus teringat hingga menyisakan dendam di hati kita. Namun sebenarnya hal itulah yang menghambat kemajuan masa depan kita nantinya. Bagaimanapun kondisi masa lalu kita, itulah yang telah terjadi dan tak mungkin kembali. Percuma jika kita mengungkit masa lalu dan berandai andai seperti “ah, seandainya saja dulu aku sekolah disini. Atau ah, seandainya saja aku tak melakukan kesalahan itu’’, tak ada gunanya, lagipula waktu tak akan pernah mungkin berjalan kebelakang. Sudahlah lupakan luka masa lalumu. Biarkan angin membawamu berlari mengejar mimpi dan kesuksesan.
Ngomong seperti itu sangatlah mudah, tapi terkadang penerapannya sulit. Menurut saya tak sesulit apa yang dibayangkan. Cobalah percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu melakukan apa yang seharusnya kita jalani. Bahwa yang terjadi sekarang bisa jadi menurut kita tak pantas tapi menurut kacamata Tuhan itulah yang terbaik untuk kita. Sebesar apapun usaha kita, tetaplah Tuhan yang memiliki andil besar dalam menentukan hidup kita. Kita memang tak pernah tahu bagaimana masa depan kita nanti, tapi setidaknya Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk merencanakan masa depan yang terbaik. Dan peran Tuhan hanyalah menyetujui atau tidak atas apa yang kita rencanakan. Intinya adalah, sekecil apapun rencana atau tujuan hidup kita Tulislah! Lakukanlah! dan berdoalah!. Kelak ijinkanlah Tuhan untuk memberi jalan yang terbaik untuk kita. Seindah-indah tujuan hidup adalah menjadi pribadi yang berguna! –Mario Teguh-
Sesekali tengoklah masa lalumu, biarkan hal itu menjadi pengindah masa depanmu, menjadi kenangan-kenangan yang tak terlupakan. Masa lalumu adalah saksi bisu kesuksesanmu. Tanpa masa lalu hidupmu akan hampa. Pengindah kebahagiaan adalah kegagalan. Karena semua berawal dari nol. Masa lalu bukanlah penentu masa depan karena kemarin adalah kenangan, hari ini adalah tantangan, dan esok adalah harapan.
POTRET 1: Kehidupan di Mata Remaja
Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in Sebuah Cerita di Balik LensaKehidupan semakin menampakkan wujud aslinya. Kini, kejujuran tak ubahnya hanya sebuah sandiwara belaka. Alkohol, seks bebas, narkoba, dan semua hal yang berbau ‘kenakalan dan modernisasi’ seakan-akan di Tuhankan. Manusia seakan melupakan kodratnya sebagai makhluk yang beragama. Terlalu munafik jika kita tak mau mengakui bahwa hal itu kini benar-benar terjadi dan perlahan menghancurkan generasi muda. Remaja. Bagaimana tidak, pengaruh itu secepat angin masuk menjadi sebuah trend baru di kalangan remaja tanpa ada perlawanan yang berarti. Sudahlah jangan saling menyalahkan siapapun atas hal itu. Kini, bukan saatnya berdebat mencari siapa yang benar dan salah, bangunlah! Lihat duniamu sekarang! Lekaslah memperbaikinya. Biarkanlah saja nanti waktu yang akan membuktikan dengan segala caranya tentang siapa yang salah dan benar. Bukankah kita juga diajarkan untuk selalu mawas diri dan berlaku baik terhadap siapapun sekalipun dia melakukan kesalahan. Kalau kata pak Mario Teguh “Tetaplah berlaku baik. Lalu perhatikan apa yang terjadi.’’
Selama ini mungkin tak banyak yang ingin tahu makna hidup yang hakiki dan bahagia serta bagaimana hidup harus dijalani. Bukankah selama ini banyak orang yang mengatakan “Jalani saja hidupmu. Jangan dibikin repot. Biar saja mengalir seperti air’’. Tapi bukankah kita tahu bahwa air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Lalu maukah kita menjadi orang yang selalu mengalir ke tempat yang rendah dan tak ada perubahan.
Entah mengapa, seiring kemajuan jaman banyak remaja yang melupakan budaya seakan tak penting. Lupa siapa yang membesarkannya. Tak punya tata karma dan secara ekstrem bisa dibilang lupa akan jati dirinya sendiri. Bagiku, hidup lebih dari sekedar mimpi dan cita-cita. Hidup adalah pengabdian yang tidak meminta harta atau jabatan yang masih mengingat sejarah hidupnya dan terlebih lingkungannya untuk di jadikan acuan menjadi insan yang lebih baik. Modernisasi bukan sebuah jalan utama dalam mencari kebahagiaan tapi kesadaran diri sendiri yang harus ditanamkan dalam membentuk orang yang memiliki jiwa yang besar sehingga mampu membawa dirinya ke gerbang kesuksesan.
Otak manusia seakan terkikis oleh kemajuan teknologi dan modernisasi. Termasuk remaja. Lihat saja disetiap tempat tak ada satupun remaja yang tak membawa HP ‘HandPhone’. Media komunikasi elektronik tersebut telah membawa kita lebih maju dalam hal komunikasi. Namun manfaatnya dirasa kurang dan lebih banyak mendatangkan hal negatif. Justru dari situlah sumber kerusakan moral dan harga diri remaja. Bayangkan saja, sebagian besar dari remaja termasuk saya pasti tak asing lagi dengan dunia maya, chatting, porno aksi, seks bebas, dan alkohol. Hal itu sangat mudah didapatkan melalui HP. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan membentengi diri agar tak terbawa oleh arus globalisasi. Dalam hal ini, peran orangtua sangatlah penting layaknya bunga yang tak bisa lepas dari tangkainya.
Kemajuan jaman ini harus kita lalui. Dengan era globalisasi semua terasa mudah didapatkan tapi jangan sampai kita buta akan hal itu. Berbagai efek baik positif negatif tak mampu dibendung datangnya. Oleh karena itu, walaupun orang lain telah mengarahkan kita, memberi nasehat, tetapi hati kita, pikiran kita yang berperan lebih besar terhadap perbuatan kita. Jadi, sebelum melakukan sesuatu berpikirlah terlebih dahulu. Mereka para orang tua kita telah sukses melewati masa remajanya tanpa goresan catatan hitam dan luka dihidupnya. Mampukah kita menorehkan catatan emas di masa remaja ini? Siapa yang akan bangga nantinya? Bukankah kita sendiri?. Tulis mimpimu. Lakukanlah. Dunia akan jadi milikmu.(farah)
