Sebentuk Impian yang Terpenjara-3  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"di ruangan kecil ini ia membangun impian itu. Mencoba bangkit dan bangun melihat keadaan sekitar. Terjajar rapi lukisan-lukisan itu. Foto-foto yang tertempel sejajar dengan ruangan. Coretan kertas dan buku-buku bertumpuk di sudut ruangan. Hanya merah, biru, dan hijau yang menyinari setiap mimpinya di ruangan mungil itu. Kerapkali ia menggantungkan secuil kertas di pohon cokelat yang terlukis di sudut ruangan. Meniup debu dari buku di sudut ruangan yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik baginya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Jelas sekali bahwa ia ingin mengenang semua imajinya."
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-

Sebentuk Impian yang Terpenjara-2  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"Dia harus membantu dirinya sendiri, minta dia berhenti untuk marah pada keadaan." ujar salah seorang disampingnya. Sekalipun berusaha mendamaikan diri dengan keadaan. Semua orang akan mendustainya. Karena semua orang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Memang tak salah semua orang bersikap seperti itu, Tapi bukan seperti ini konsep hidup yang dia inginkan dan butuhkan. Hidup adalah tumbuh, berkembang, dan menghargai setiap proses penciptaan Tuhan. Yang dia pikirkan adalah bagaimana menyaring air yang jatuh dari atas ke bawah dan merubah kebiasaan buruk menjadi sebuah take action yang bermanfaat bagi banyak orang. Apa salah ketika dia ingin menjadi dirinya sendiri dan memulai semua yang baru. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, sebaik-baik dirinya sendiri. Itu hak setiap manusia. Jangan memenjara setiap lakon yang ingin dia mainkan. Tuhan sudah mengaturnya. Masa depan itu rahasia.
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-

Sebentuk Impian yang Terpenjara  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"seperti sebuah tekanan batin setelah 'kecelakaan' itu menimpanya. Sebentuk tekanan batin yang bahkan tak ada yang mampu menghapusnya. Hanya bisa berusaha menutup lembar demi lembar kenangan yang meski pahit harus dilalui. Sekalipun bahagia terpancar dari senyum mungilnya. Tapi ia tak bisa menyembunyikan luka yang mengoyak nurani dan hidupnya. Baginya, ini bukan masalah materi tapi lebih kepada sebentuk nurani yang terpenjara di antara angan-angan dan impian yang tinggi. Lika Liku Luka yang harus dilewati, dan sebuah pengorbanan nurani yang begitu besar untuk realistis menerima keadaan. Tekanan yang semakin membuat imaji ini terpenjara. Dan ia pun selalu berkata "aku lebih bahagia dengan udara dan air. Dan mereka lebih tahu bagaimana aku harus belajar menghargai sebuah proses.". Apapun yang terjadi, biarkan dia bebas berekspresi dengan imajinasinya."
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-


ps: foto ini diambil dari web favim.com

Sebentuk Impian yang Terpenjara-3  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"di ruangan kecil ini ia membangun impian itu. Mencoba bangkit dan bangun melihat keadaan sekitar. Terjajar rapi lukisan-lukisan itu. Foto-foto yang tertempel sejajar dengan ruangan. Coretan kertas dan buku-buku bertumpuk di sudut ruangan. Hanya merah, biru, dan hijau yang menyinari setiap mimpinya di ruangan mungil itu. Kerapkali ia menggantungkan secuil kertas di pohon cokelat yang terlukis di sudut ruangan. Meniup debu dari buku di sudut ruangan yang sudah lama tak terpakai menjadi hal unik baginya. Rasanya ada sepotong fragmen yang tak boleh dilewatkan. Seperti ada nuansa masa lalu yang memberontak ingin dikenang hingga kini. Mari kembali beralih pada setiap bagian di buku ini dengan tulisan yang acak-acakan. Lembar demi lembar, setiap foto yang tertempel, coretan demi coretan dari tinta warna yang mulai luntur menghiasi setiap lembar dalam buku itu. Jelas sekali bahwa ia ingin mengenang semua imajinya."
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-

Sebentuk Impian yang Terpenjara-2  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"Dia harus membantu dirinya sendiri, minta dia berhenti untuk marah pada keadaan." ujar salah seorang disampingnya. Sekalipun berusaha mendamaikan diri dengan keadaan. Semua orang akan mendustainya. Karena semua orang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Memang tak salah semua orang bersikap seperti itu, Tapi bukan seperti ini konsep hidup yang dia inginkan dan butuhkan. Hidup adalah tumbuh, berkembang, dan menghargai setiap proses penciptaan Tuhan. Yang dia pikirkan adalah bagaimana menyaring air yang jatuh dari atas ke bawah dan merubah kebiasaan buruk menjadi sebuah take action yang bermanfaat bagi banyak orang. Apa salah ketika dia ingin menjadi dirinya sendiri dan memulai semua yang baru. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri, sebaik-baik dirinya sendiri. Itu hak setiap manusia. Jangan memenjara setiap lakon yang ingin dia mainkan. Tuhan sudah mengaturnya. Masa depan itu rahasia.
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-

Sebentuk Impian yang Terpenjara  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

"seperti sebuah tekanan batin setelah 'kecelakaan' itu menimpanya. Sebentuk tekanan batin yang bahkan tak ada yang mampu menghapusnya. Hanya bisa berusaha menutup lembar demi lembar kenangan yang meski pahit harus dilalui. Sekalipun bahagia terpancar dari senyum mungilnya. Tapi ia tak bisa menyembunyikan luka yang mengoyak nurani dan hidupnya. Baginya, ini bukan masalah materi tapi lebih kepada sebentuk nurani yang terpenjara di antara angan-angan dan impian yang tinggi. Lika Liku Luka yang harus dilewati, dan sebuah pengorbanan nurani yang begitu besar untuk realistis menerima keadaan. Tekanan yang semakin membuat imaji ini terpenjara. Dan ia pun selalu berkata "aku lebih bahagia dengan udara dan air. Dan mereka lebih tahu bagaimana aku harus belajar menghargai sebuah proses.". Apapun yang terjadi, biarkan dia bebas berekspresi dengan imajinasinya."
-Penggalan cerpen "Sebentuk Impian yang Terpenjara"-


ps: foto ini diambil dari web favim.com