Yang Menjadi Segalanya Bagiku  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Bertahun-tahun sudah menikmati setiap waktu yang ada, entah untuk apapun itu. Pernah gak sih kita bertanya pada diri sendiri "Apa sih yang udah aku lakuin selama ini? Apa sih yang paling berarti selama ini?". Well, lagi-lagi muncul pertanyaan klasik yang terdramatisasi ketika mengucapkannya. haha. Seringkali aku menghabiskan waktu senja untuk duduk bersantai di salah satu monumen di kotaku. Uniknya monumen ini di desain mirip banget sama monumen Arc de Triomphe dari Paris. Bedanya monumen Simpang Lima Gumul(SLG) berada di tengah-tengah persimpangan Lima di Gumul, Kediri. Walaupun desain dan arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe, tapi ternyata ornamennya menonjolkan seni budaya asli Kediri. Di sekeliling monumen banyak banget ditumbuhi rumput yang biasa untuk santai dan ngumpul bareng temen. Klasik ya menikmati suasana senja di Arc de Triomphe ala Kediri.

Aku tak sendiri menikmati senja di monumen ini, biasanya sebotol minuman kaleng, beberapa bungkus snack, notes, kamera, dan salah seorang sahabat menjadi pelengkap rutinitas senjaku. Waktu itu di suatu senja kami duduk berdua di bawah langit yang teduh, udara yang sejuk, dan hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ketika itu mata kami tertuju pada gadis kecil yang berlari sambil tersenyum menghampiri kami.

"Halo adek manis... namanya siapa?" sapa sahabat saya

Gadis itu hanya tersenyum dan duduk di depan kami dengan manisnya. Memainkan rumput dengan jari jemarinya yang mungil sambil sesekali melirik ke arah kami. Tak lama, ibunya memanggil dengan suara yang cukup keras karena gadis itu berlarian cukup jauh dari orang tuanya.

"Adek sini, jangan ganggu kakaknya lagi ngobrol...". Tampaknya ia kaget dengan teriakan ibunya, gadis itu berlari ke arah ibunya dan bermain disana.

"Prim, sadar gak sih anak kecil tadi habis ngapain? aneh banget!" ucapku datar
"Ya biasa, namanya juga anak kecil pasti ya kayak gitu deh tingkahnya. Lucu kan?"
"Iya sih, tapi aneh. Perhatiin deh, daritadi maen dan lari-lari terus gak ada capeknya apa. Gak bisa diem banget kan?"
"Dia kan masih kecil, masih polos. Jarang-jarang kan di genit in sama anak kecil kayak gitu." Kata Prima sambil tertawa kecil
"Whatever lah"
"Biarin aja lah, biar dia menikmati masa kecilnya yang indah. Biasanya kita juga kangen masa kecil kita kan?"

Aku diam, kami berdua sama-sama diam. Orang-orang bercengkrama di sekeliling monumen, ada yang dengan keluarga, sahabat, pacar, dan banyak yang lainnya. Deru suara motor di jalanan menjadi tontonan yang biasa karena posisi monumen ini tepat di tengah jalan persimpangan lima. Hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas panjang seolah menenangkan diri.

"Apa sih yang kita cari disini?" Kataku mengagetkan Prima
"Pengen santai. Bosen kan tiap hari dengan rutinitas yang itu-itu aja."
"Kapan ya bisa kayak anak kecil tadi. Lari-lari, tanpa beban, bebas nglakuin apa aja yang dia suka. Yang ada dipikirannya cuma maen dan maen. gak ada yang lain!"
"Kan selama ini kita udah melewati semua itu. Gak mungkin kan kita kembali ke masa lalu."
"Ya enggak sih, rasanya sekarang gak bisa enjoy aja. Yang salah siapa donk kalau gitu? Kita? atau keadaan?"
"Gak ada yang salah sih. Mungkin kita sering lupa sama Tuhan, membiarkan diri kita terlena dengan apa yang namanya tanggung jawab. Sekarang kita udah jadi diri kita sendiri. Bedanya sama anak kecil tadi, dia masih mencari siapa dirinya."
"Iya ya, sudah saatnya kita mendewasa tanpa mengeluhkan apa yang terjadi. Mungkin keluhan-keluhan yang menumpuk itu membuat aku lupa siapa di balik semua ini. Tuhan."
"Life must go on kan?"
"Yah, Tuhan yang membuat kita kuat."

Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Ada satu hal yang perlu aku sadari dalam hidup ini. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Yang jarang disadari oleh remaja seusiaku. Bahwa sebenarnya Allahlah segalanya. Yang memberi hidup dan kehidupan. Maha pembolak balik hati. Sang pemilik segalanya. Hanya Allahlah yang memiliki segalanya, penolongku, cahaya terang di saat nurani mulai goyah, petunjuk saat otak mulai kehilangan logika, Maha segalanya. Dialah tujuan dari segala tujuan. Allahlah yang berhak atas nafasku, atas jiwaku, atas ragaku, ilmuku, atas jalan hidupku. Jalan hidup yang aku pilih tanpa paksaan. Karena semua ini milikNya.

Galau vs Passion  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Bisa dibilang ini adalah masa galau dan fase tersulit seorang anak SMA menuju masa depan (Haha puitis banget). Tentang sebuah pilihan mau kuliah, kerja, atau mungkin mau nikah. hehe. Yah, dihadapkan pada suatu kondisi dan pilihan tentang masa depan yang bisa dibilang sih menjadi penentu langkah selanjutnya. Ada seorang temen yang berkali-kali tanya "gimana sih enaknya mau kuliah dimana ya? mau ngambil jurusan apa? bingung nih." nah, yang kuliah dia malah nanya balik ke aku. haha. Well, itu wajar! Jangan kaget kalau lagi musim UNAS gini semua anak SMA pada tegang, bingung, dan ngabisin duit jajan buat ngenet (baca: search Perguruan Tinggi, SNMPTN). Bisa aku pastiin kegalauan hampir menjadi bagian dari para siswa SMA di seluruh Indonesia. Mulai dari pemilihan jurusan, sampai ke tahap yang paling galau dari semua kegalauan di zaman SMA:

Mau masuk ke mana, dan ambil jurusan apa pas kuliah nanti?

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai fenomena kegalauan ini dari sudut pandang seorang calon MABA (Mahasiswa Baru). Semoga dengan tulisan ini aku, kamu, dan siapapun yang lagi galau gak akan mengalami depresi karena salah jurusan. Well, its the time to share my opinion for you:

1. Paradigma dan Masa Depan
Coba deh kita perhatiin, banyak orang tua kita yang bilang "kamu pantesnya kuliah di Kedokteran. Tuh liat prospeknya bagus. Gajinya Gede." atau mungkin "gak pantes kamu ambil jurusan itu. mau jadi apa kamu nanti?" dan bla bla bla dengan segudang alasan. Mungkin orang tua kita pernah bicara seperti itu. Niatnya sih mau ngasih pilihan yang tepat buat kita nantinya. Selama ini pemilihan jurusan selalu dikaitkan dengan prospek masa depan. Entah itu karena gaji, kualitas kehidupan, dan kemudahan lapangan kerja. Parameter seperti itulah yang selalu dikaitkan dengan pemilihan jurusan. Nah, mulai bingung deh kalau masih terikat dengan paradigma yang kayak gitu. Gak bakalah ada yang benar di mata kita kalau kita selalu menjadikan hal tersebut sebagai parameter kualitas kehidupan kita. Percaya deh, sekalipun pilihan kamu di anggap rendah dan buruk, pasti ada jalan yang lebih baik nantinya.

2. Penyakit Khas Indonesia
Gengsi, sebuah kebodohan yang menurut saya mengakar dengan sangat kuat di kehidupan masyarakat Indonesia. Gengsi ini begitu mengakarnya, sehingga terkadang passing grade suatu jurusan pun sering menjadi dinding yang secara tak langsung memisahkan kehidupan sosial antar mahasiswa. Terkadang seseorang akan dianggap hebat, dan dipandang sebagai golongan elit apabila dia sanggup masuk ke jurusan yang standar passing grade-nya tinggi. Sehingga adalah hal yang bisa dimaklumi jika para remaja yang memang sedang berada di fase pencarian identitas, dan pengakuan, akan tergiur untuk masuk ke dalam golongan “elit” ini.

3. Passion Is the Real Dream
Banyak orang sudah cukup puas dengan gaji yang tinggi, rumah, mobil, dan semua yang mereka inginkan terwujud. Tapi ada juga yang berpikir "kok selama ini aku menghabiskan waktu dengan sesuatu yang membosankan ya. Cuma itu-itu aja.". Nah passion is the real dream, dimana kamu bisa menggunakan passion kamu untuk sebuah jalan untuk meraih mimpi kamu. Ada yang mau jadi penulis, penyanyi, desainer, dan apapun itu yang kamu inginkan. Semuanya sih sah-sah aja, selama itu bisa buat kamu nyaman dan gak ngerugiin orang lain. Oke sekarang kamu harus tahu dan kejar passion kamu demi masa depan.

Nah, apa sih passion itu?

"Sesuatu adalah passion kita, jika ketika kita mengerjakan hal tersebut, maka waktu akan berlalu dengan cepat. Badan dan pikiran kita pun akan rileks dan enjoy mengerjakannya, entah itu 5 menit, sejam, 5 jam, ataupun seharian, tidak akan ada bedanya. Pada kenyataannya, terkadang kita sama sekali tidak merasa perlu untuk beristirahat, bahkan ketika mengerjakan sesuatu yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yang teramat melelahkan."

Terdengar seperti kisah dongeng kah? Ya, memang saya akui ini terdengar berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Ketika kita melakukan sesuatu yang kita senangi, maka semua waktu akan berjalan tanpa terasa. Pernahkah kita merasakan seakan-akan kita terbenam ke dalam suatu hal sampai lupa waktu? Seperti itulah kira-kira rasanya menjalankan passion kita. Dan passion inilah sebuah hal yang memungkinkan kita untuk membuat sebuah masterpiece di dalam hidup kita.

4. Time = Masa Depan
Gak ada lagi yang namanya santai. Betapa waktu sangat berharga untuk menentukan kualitas diri kita. Siapa yang menghargai waktu, dialah yang menghargai masa depannya. Kamu boleh mimpi setinggi langit, gak ada yang nglarang. Tapi inget, semua itu gak akan terwujud kalau kamu gak pernah menghargai setiap detik waktu yang ada untuk mempersiapkan masa depan kamu. Sama halnya dengan pemilihan jurusan, setiap saat kamu harus siap dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan kamu butuhkan nanti pas Kuliah. Why? Prepare for future is the importent thing. Kesimpulannya, persiapkan diri kamu, mimpi kamu, dan apapun yang akan kamu pilih mulai dari sekarang. satu-satunya waktu yang bisa berubah hanya masa lalu. Masa depan belum terbentuk, hari ini yang membentuk kamu sukses di masa depan nanti. Waktu yang akan membuktikan dengan segala caranya.

5. The "X" Factor
Last but not Least. The X factor yang dimaksud bukan acara yang lagi hits di Tv itu tuh. X Factor adalah faktor yang paling menentukan apakah kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Faktor X ini biasa orang sebut 'LUCK' yap keberuntungan. Tapi menurut saya itu lebih dari apa yang namanya keberuntungan. Keberuntungan bisa aja datang sekali, dua kali. Tapi, Faktor X yang saya maksud adalah 'DOA'. Jadi keberuntungan akan datang dan berpihak pada siapapun yang berdoa. Mustahil jika kita menginginkan sesuatu yang besar tapi hanya dengan usaha yang kecil. Percaya, Tak ada hal luar biasa yang dicapai dengan cara Biasa. Dan cara luar biasa itu adalah Doa dan Usaha.

Finnaly, Kejarlah apa yang menjadi passion kamu. Lupakan saja gaji dan gengsi. Karena mengejar passion akan membuat kamu lebih mudah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan kamu gak akan pernah menyesal ketika kamu menjalankan dan mengejar passion kamu. Karena itu jati dirimu. Gunakan waktu sebaik-baiknya demi masa depan kamu. Waktu kamu sudah tiba untuk membuka mata meraih mimpi. Percaya deh, setiap apa yang kita impikan dan inginkan pasti akan terwujud. Tuhan gak akan tidur kok untuk selalu mendengar doa hamba-hambanya. Mungkin kita butuh waktu yang panjang untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tapi suatu saat akan ada masa dimana kita akan tersenyum dan memandang kebelakang sambil bilang:

"Untung dulu saya mengejar apa yang menjadi Passion saya"

Ps: Jangan buat komitmen yang salah yang kemudian akan kamu sesali sepanjang usia.

UNTITLED FREEDOM!  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Demi Hedonisme.
Demi Idealisme.
Demi Fanatisme.
Demi Kekuasaan.
Demi apapun yang di banggakan manusia di dunia.
Dan demi... demi...
Demikianlah...
sebuah ironi ketika kebebasan menjadi raja...
Demikianlah...
semua menyita waktu, menguras pikiran, mematahkan logika.
Euforia tanpa alasan.
Tanpa tujuan
dan tanpa apapun hingga kita tak menyadari bahwa ternyata hampa.
Tak pantas dibanggakan.
"kamu juga seseorang yang hebat"

Yang Menjadi Segalanya Bagiku  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Bertahun-tahun sudah menikmati setiap waktu yang ada, entah untuk apapun itu. Pernah gak sih kita bertanya pada diri sendiri "Apa sih yang udah aku lakuin selama ini? Apa sih yang paling berarti selama ini?". Well, lagi-lagi muncul pertanyaan klasik yang terdramatisasi ketika mengucapkannya. haha. Seringkali aku menghabiskan waktu senja untuk duduk bersantai di salah satu monumen di kotaku. Uniknya monumen ini di desain mirip banget sama monumen Arc de Triomphe dari Paris. Bedanya monumen Simpang Lima Gumul(SLG) berada di tengah-tengah persimpangan Lima di Gumul, Kediri. Walaupun desain dan arsitekturnya mirip dengan Arc de Triomphe, tapi ternyata ornamennya menonjolkan seni budaya asli Kediri. Di sekeliling monumen banyak banget ditumbuhi rumput yang biasa untuk santai dan ngumpul bareng temen. Klasik ya menikmati suasana senja di Arc de Triomphe ala Kediri.

Aku tak sendiri menikmati senja di monumen ini, biasanya sebotol minuman kaleng, beberapa bungkus snack, notes, kamera, dan salah seorang sahabat menjadi pelengkap rutinitas senjaku. Waktu itu di suatu senja kami duduk berdua di bawah langit yang teduh, udara yang sejuk, dan hamparan rumput yang bergoyang tertiup angin. Ketika itu mata kami tertuju pada gadis kecil yang berlari sambil tersenyum menghampiri kami.

"Halo adek manis... namanya siapa?" sapa sahabat saya

Gadis itu hanya tersenyum dan duduk di depan kami dengan manisnya. Memainkan rumput dengan jari jemarinya yang mungil sambil sesekali melirik ke arah kami. Tak lama, ibunya memanggil dengan suara yang cukup keras karena gadis itu berlarian cukup jauh dari orang tuanya.

"Adek sini, jangan ganggu kakaknya lagi ngobrol...". Tampaknya ia kaget dengan teriakan ibunya, gadis itu berlari ke arah ibunya dan bermain disana.

"Prim, sadar gak sih anak kecil tadi habis ngapain? aneh banget!" ucapku datar
"Ya biasa, namanya juga anak kecil pasti ya kayak gitu deh tingkahnya. Lucu kan?"
"Iya sih, tapi aneh. Perhatiin deh, daritadi maen dan lari-lari terus gak ada capeknya apa. Gak bisa diem banget kan?"
"Dia kan masih kecil, masih polos. Jarang-jarang kan di genit in sama anak kecil kayak gitu." Kata Prima sambil tertawa kecil
"Whatever lah"
"Biarin aja lah, biar dia menikmati masa kecilnya yang indah. Biasanya kita juga kangen masa kecil kita kan?"

Aku diam, kami berdua sama-sama diam. Orang-orang bercengkrama di sekeliling monumen, ada yang dengan keluarga, sahabat, pacar, dan banyak yang lainnya. Deru suara motor di jalanan menjadi tontonan yang biasa karena posisi monumen ini tepat di tengah jalan persimpangan lima. Hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas panjang seolah menenangkan diri.

"Apa sih yang kita cari disini?" Kataku mengagetkan Prima
"Pengen santai. Bosen kan tiap hari dengan rutinitas yang itu-itu aja."
"Kapan ya bisa kayak anak kecil tadi. Lari-lari, tanpa beban, bebas nglakuin apa aja yang dia suka. Yang ada dipikirannya cuma maen dan maen. gak ada yang lain!"
"Kan selama ini kita udah melewati semua itu. Gak mungkin kan kita kembali ke masa lalu."
"Ya enggak sih, rasanya sekarang gak bisa enjoy aja. Yang salah siapa donk kalau gitu? Kita? atau keadaan?"
"Gak ada yang salah sih. Mungkin kita sering lupa sama Tuhan, membiarkan diri kita terlena dengan apa yang namanya tanggung jawab. Sekarang kita udah jadi diri kita sendiri. Bedanya sama anak kecil tadi, dia masih mencari siapa dirinya."
"Iya ya, sudah saatnya kita mendewasa tanpa mengeluhkan apa yang terjadi. Mungkin keluhan-keluhan yang menumpuk itu membuat aku lupa siapa di balik semua ini. Tuhan."
"Life must go on kan?"
"Yah, Tuhan yang membuat kita kuat."

Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Ada satu hal yang perlu aku sadari dalam hidup ini. Yang mungkin selama ini hilang entah kemana. Yang jarang disadari oleh remaja seusiaku. Bahwa sebenarnya Allahlah segalanya. Yang memberi hidup dan kehidupan. Maha pembolak balik hati. Sang pemilik segalanya. Hanya Allahlah yang memiliki segalanya, penolongku, cahaya terang di saat nurani mulai goyah, petunjuk saat otak mulai kehilangan logika, Maha segalanya. Dialah tujuan dari segala tujuan. Allahlah yang berhak atas nafasku, atas jiwaku, atas ragaku, ilmuku, atas jalan hidupku. Jalan hidup yang aku pilih tanpa paksaan. Karena semua ini milikNya.

Galau vs Passion  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Bisa dibilang ini adalah masa galau dan fase tersulit seorang anak SMA menuju masa depan (Haha puitis banget). Tentang sebuah pilihan mau kuliah, kerja, atau mungkin mau nikah. hehe. Yah, dihadapkan pada suatu kondisi dan pilihan tentang masa depan yang bisa dibilang sih menjadi penentu langkah selanjutnya. Ada seorang temen yang berkali-kali tanya "gimana sih enaknya mau kuliah dimana ya? mau ngambil jurusan apa? bingung nih." nah, yang kuliah dia malah nanya balik ke aku. haha. Well, itu wajar! Jangan kaget kalau lagi musim UNAS gini semua anak SMA pada tegang, bingung, dan ngabisin duit jajan buat ngenet (baca: search Perguruan Tinggi, SNMPTN). Bisa aku pastiin kegalauan hampir menjadi bagian dari para siswa SMA di seluruh Indonesia. Mulai dari pemilihan jurusan, sampai ke tahap yang paling galau dari semua kegalauan di zaman SMA:

Mau masuk ke mana, dan ambil jurusan apa pas kuliah nanti?

Melalui tulisan ini, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai fenomena kegalauan ini dari sudut pandang seorang calon MABA (Mahasiswa Baru). Semoga dengan tulisan ini aku, kamu, dan siapapun yang lagi galau gak akan mengalami depresi karena salah jurusan. Well, its the time to share my opinion for you:

1. Paradigma dan Masa Depan
Coba deh kita perhatiin, banyak orang tua kita yang bilang "kamu pantesnya kuliah di Kedokteran. Tuh liat prospeknya bagus. Gajinya Gede." atau mungkin "gak pantes kamu ambil jurusan itu. mau jadi apa kamu nanti?" dan bla bla bla dengan segudang alasan. Mungkin orang tua kita pernah bicara seperti itu. Niatnya sih mau ngasih pilihan yang tepat buat kita nantinya. Selama ini pemilihan jurusan selalu dikaitkan dengan prospek masa depan. Entah itu karena gaji, kualitas kehidupan, dan kemudahan lapangan kerja. Parameter seperti itulah yang selalu dikaitkan dengan pemilihan jurusan. Nah, mulai bingung deh kalau masih terikat dengan paradigma yang kayak gitu. Gak bakalah ada yang benar di mata kita kalau kita selalu menjadikan hal tersebut sebagai parameter kualitas kehidupan kita. Percaya deh, sekalipun pilihan kamu di anggap rendah dan buruk, pasti ada jalan yang lebih baik nantinya.

2. Penyakit Khas Indonesia
Gengsi, sebuah kebodohan yang menurut saya mengakar dengan sangat kuat di kehidupan masyarakat Indonesia. Gengsi ini begitu mengakarnya, sehingga terkadang passing grade suatu jurusan pun sering menjadi dinding yang secara tak langsung memisahkan kehidupan sosial antar mahasiswa. Terkadang seseorang akan dianggap hebat, dan dipandang sebagai golongan elit apabila dia sanggup masuk ke jurusan yang standar passing grade-nya tinggi. Sehingga adalah hal yang bisa dimaklumi jika para remaja yang memang sedang berada di fase pencarian identitas, dan pengakuan, akan tergiur untuk masuk ke dalam golongan “elit” ini.

3. Passion Is the Real Dream
Banyak orang sudah cukup puas dengan gaji yang tinggi, rumah, mobil, dan semua yang mereka inginkan terwujud. Tapi ada juga yang berpikir "kok selama ini aku menghabiskan waktu dengan sesuatu yang membosankan ya. Cuma itu-itu aja.". Nah passion is the real dream, dimana kamu bisa menggunakan passion kamu untuk sebuah jalan untuk meraih mimpi kamu. Ada yang mau jadi penulis, penyanyi, desainer, dan apapun itu yang kamu inginkan. Semuanya sih sah-sah aja, selama itu bisa buat kamu nyaman dan gak ngerugiin orang lain. Oke sekarang kamu harus tahu dan kejar passion kamu demi masa depan.

Nah, apa sih passion itu?

"Sesuatu adalah passion kita, jika ketika kita mengerjakan hal tersebut, maka waktu akan berlalu dengan cepat. Badan dan pikiran kita pun akan rileks dan enjoy mengerjakannya, entah itu 5 menit, sejam, 5 jam, ataupun seharian, tidak akan ada bedanya. Pada kenyataannya, terkadang kita sama sekali tidak merasa perlu untuk beristirahat, bahkan ketika mengerjakan sesuatu yang pada umumnya orang anggap sebagai sesuatu yang teramat melelahkan."

Terdengar seperti kisah dongeng kah? Ya, memang saya akui ini terdengar berlebihan, tapi inilah kenyataannya. Ketika kita melakukan sesuatu yang kita senangi, maka semua waktu akan berjalan tanpa terasa. Pernahkah kita merasakan seakan-akan kita terbenam ke dalam suatu hal sampai lupa waktu? Seperti itulah kira-kira rasanya menjalankan passion kita. Dan passion inilah sebuah hal yang memungkinkan kita untuk membuat sebuah masterpiece di dalam hidup kita.

4. Time = Masa Depan
Gak ada lagi yang namanya santai. Betapa waktu sangat berharga untuk menentukan kualitas diri kita. Siapa yang menghargai waktu, dialah yang menghargai masa depannya. Kamu boleh mimpi setinggi langit, gak ada yang nglarang. Tapi inget, semua itu gak akan terwujud kalau kamu gak pernah menghargai setiap detik waktu yang ada untuk mempersiapkan masa depan kamu. Sama halnya dengan pemilihan jurusan, setiap saat kamu harus siap dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan kamu butuhkan nanti pas Kuliah. Why? Prepare for future is the importent thing. Kesimpulannya, persiapkan diri kamu, mimpi kamu, dan apapun yang akan kamu pilih mulai dari sekarang. satu-satunya waktu yang bisa berubah hanya masa lalu. Masa depan belum terbentuk, hari ini yang membentuk kamu sukses di masa depan nanti. Waktu yang akan membuktikan dengan segala caranya.

5. The "X" Factor
Last but not Least. The X factor yang dimaksud bukan acara yang lagi hits di Tv itu tuh. X Factor adalah faktor yang paling menentukan apakah kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Faktor X ini biasa orang sebut 'LUCK' yap keberuntungan. Tapi menurut saya itu lebih dari apa yang namanya keberuntungan. Keberuntungan bisa aja datang sekali, dua kali. Tapi, Faktor X yang saya maksud adalah 'DOA'. Jadi keberuntungan akan datang dan berpihak pada siapapun yang berdoa. Mustahil jika kita menginginkan sesuatu yang besar tapi hanya dengan usaha yang kecil. Percaya, Tak ada hal luar biasa yang dicapai dengan cara Biasa. Dan cara luar biasa itu adalah Doa dan Usaha.

Finnaly, Kejarlah apa yang menjadi passion kamu. Lupakan saja gaji dan gengsi. Karena mengejar passion akan membuat kamu lebih mudah mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan kamu gak akan pernah menyesal ketika kamu menjalankan dan mengejar passion kamu. Karena itu jati dirimu. Gunakan waktu sebaik-baiknya demi masa depan kamu. Waktu kamu sudah tiba untuk membuka mata meraih mimpi. Percaya deh, setiap apa yang kita impikan dan inginkan pasti akan terwujud. Tuhan gak akan tidur kok untuk selalu mendengar doa hamba-hambanya. Mungkin kita butuh waktu yang panjang untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tapi suatu saat akan ada masa dimana kita akan tersenyum dan memandang kebelakang sambil bilang:

"Untung dulu saya mengejar apa yang menjadi Passion saya"

Ps: Jangan buat komitmen yang salah yang kemudian akan kamu sesali sepanjang usia.

UNTITLED FREEDOM!  

Posted by: Farah Adiba Nailul Muna in

Demi Hedonisme.
Demi Idealisme.
Demi Fanatisme.
Demi Kekuasaan.
Demi apapun yang di banggakan manusia di dunia.
Dan demi... demi...
Demikianlah...
sebuah ironi ketika kebebasan menjadi raja...
Demikianlah...
semua menyita waktu, menguras pikiran, mematahkan logika.
Euforia tanpa alasan.
Tanpa tujuan
dan tanpa apapun hingga kita tak menyadari bahwa ternyata hampa.
Tak pantas dibanggakan.
"kamu juga seseorang yang hebat"